Sajak Rindu (dari) Sang Pencari Guru

Jika ada manusia yang rasa iri bolehlah tertuju, maka dialah orangnya. Di antara sekian manusia yang kutemui sejauh ini, sungguh sangat bersyukur bisa belajar banyak dari sosoknya. Karakter kami begitu berbeda namun kesamaan di antara kami adalah rasa haus yang mendalam akan petualangan ilmu dan pencarian akan seorang “guru”– lebih tepatnya mahaguru.
Kecemburuanku padanya makin menjadi saat membayangkan dirinya kini berpetualang di luar sana, menyentuh peradaban, berdiskusi dengan rakyat kecil, menganalisis apa yang sedang terjadi di bumi, dan tentu saja bebas melangkah kesana kemari, dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain, dari satu pondok ke pondok lain. Sedang aku kini di rumah, menikmati waktu bersama amanah-amanah baru, teman baru, buku-buku, sambil mengamati dunia melalui dunia maya. Masih bisa belajar? Ya, tentu saja. Tetapi, satu tanya masih tertancap: adakah kesempatanku untuk benar-benar menemui sang guru?

Kesempatan itu datang juga. Sehari yang lalu, kusampaikan isi hatiku pada sahabat lamaku itu. Inilah yang ia kirimkan sebagai balasan:

Aku mencari guru tapi tak kutemukan sosoknya di hadapanku.

Kutemukan guru tiap malam ketika aku berjeda dan menatap langkahku seharian.

Semuanya bagai pelajaran yang jelas, menunjukkan padaku apa-apa yang harus kulakukan esok hari.

Kutanya dimana guru, tapi yang muncul adalah wajah murid-muridku.

Aku menatap mereka dan menangkap harapan.

Bayangan seorang guru ada di sana.

Aku berjalan bersama mereka.

Dan kutemukan guru dalam diriku.

Semua itu penghiburku.

Guru, guru, oh guru, tetap saja rindu tak berlalu.

Kubaca sajak sajak ini di atas sebuah bis ekonomi antara Purwakarta dan Bandung. Entah, udara panas yang sedari tadi meneteskan keringatku tiba-tiba terasa dingin dan teramat sejuk. Dan, aku pun tersenyum setelah membacanya. Pelajaran hidup ada di sekitar kita. Di dalam rumah, atau di luar rumah. Di benua seberang, atau bahkan di depan pelupuk mata! Kini aku tak perlu khawatir, karena jejak guru ada di sekitar, begitu dekat untuk ditelisik. Ah sajak ini pun makin menyentakkan diri. Tak sadarkah kita selama ini? Saat kita terus meminta, saat itu ternyata kita memiliki kesempatan untuk memberi. Di saat kita mencari guru, saat itu kita pun memiliki kesempatan untuk belajar menjadi guru.

Dan, tentang satu rindu itu.. Biarlah ia menjadi motivasi diri tuk terus mencari.Hingga mata ini kan tertutup tuk terakhir kali.

Terima kasih, inspirasiku.

Bandung, 26 Maret 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s