A Prolog to be A Woman


Sekedar tulisan yang diambil dari potongan diary 2 tahun yang lalu..

***
Jakarta, 9-10-2010.

Bangunan elit nan megah itu menyambutku. Kesibukan para pekerja berdasi yang hilir mudik membuatku memikirkan bagaimana kesibukan sehari-hari mereka. Apakah mereka bahagia? Benar-benar bahagia? Sebagai seorang mahasiswi tingkat akhir, akhir-akhir ini aku jadi sering mempertanyakan arti kebahagiaan dan pencapaian dalam hidup.  Kini, aku pun berada di lantai 14, cukup tinggi untuk melirik ke luar jendela. Kulihat Jalan Sudirman tampak begitu padat kendaraan. Bundaran HI seperti remahan roti dan mobil-mobil layaknya semut kecil yang ramai mengelilinginya. Ah, dunia memang kecil, terlalu kecil. Lalu, apa arti dari semua yang tampak ini? Apa yang hendak aku cari darinya?


Di sebuah ruang kerja kepala departemen, aku duduk sendiri sambil menunggu seseorang dari sebuah institusi ternama yang akan menjadi sponsorku itu . Ya, ini hari terakhir aku berada di Indonesia dan besok aku harus berangkat ke Berlin untuk mengikuti sebuah konferensi di Jerman, sebuah negeri yang sangat ingin aku jelajahi. Pertama-tama yang kuamati adalah berbagai figura foto yang tertempel di salah satu dinding di ruangan itu. Tampak belasan atau bahkan puluhan foto seorang wanita di berbagai belahan dunia. Menara Eiffel, Patung Liberty, gedung-gedung kuno di berbagai belahan dunia… Sebagai salah satu petinggi di sana, aku tak heran bagaimana seorang wanita bisa menjelajah dunia seperti dia. Hatiku seperti begetar ketika mengingat mimpiku sejak kecil untuk berpetualang di muka bumi. Hei, apakah aku ingin mengikuti jejaknya? Tanyaku dalam hati sambil tertawa kecil.

Aku terkagum-kagum saat seseorang memasuki ruangan. Pancaran intelektualitas  yang tinggi dan jabatan yang mentereng disempurnakan dengan elegannya busana kantor yang ia pakai. Usia wanita itu mungkin sekitar 40 tahunan, namun semangatnya seperti semangat seorang mahasiswa yang hendak berorasi. Dengan hangat dan santai ia mewawancaraiku, dan ketika sampai pada bagian mimpi dan cita-citaku, ia berhenti bertanya dan berkata,

“ Aku suka anak muda sepertimu, Nak. Ambisi dan energi yang besar untuk meraih mimpi. Mengingatkanku pada masa mudaku dulu. Teruslah mengejar mimpimu. Jadilah wanita yang sukses.”

Kembali lagi aku tertawa dalam hati. Aku belum menceritakan padanya, apa yang akhir-akhir ini bergejolak dalam hati Semua yang kuceritakan itu memang mimpiku, tetapi tiba-tiba semua itu terasa tak berarti. Penatnya perkuliahan dan masalah-masalah yang aku indera dari dunia sekitar membuatku merasa bumi begitu membosankan. Namun aku memilih diam. Dan justru bertanya balik padanya,

“Apakah Ibu bahagia dengan semua ini? Menjadi wanita yang mengambil peran ganda, sebagai wanita karir, istri dan ibu… Bagaimana Ibu menjalani semuanya itu?”

Ia tidak menjawab secara eksplisit mengenai kebahagiaan, tetapi ia mengatakan ia menikmati semua itu. Wanita itu memang benar-benar memiliki energi yang besar. Dengan antusias ia menceritakan bagaimana ia mengatur aktivitasnya. Bagaimana di rumah ia memberdayakan pembantu untuk mengerjakan perkara teknis.  Bagaimana ia membagi waktu agar ia tetap bisa bekerja secara profesional dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak dan suaminya. Ia menjelaskan kata kuncinya adalah pada kerja keras dan dukungan suaminya.

Aku jadi teringat dengan ibuku sendiri, yang bukan siapa-siapa. Ibuku mengabdikan seluruh hidupnya di rumah bersama keluarga. Setiap pulang sekolah, senyum Ibu yang hangat menyambutku. Dengan sabar ia mendengarkan setiap keluhan dan ceritaku.  Tiba-tiba aku merasa bersyukur memiliki ibu seperti itu.

Apakah aku akan merasa kehilangan jika ibuku sibuk bekerja di luar? Wanita yang saat ini berdiri di hadapanku pun tidak mengabaikan keluarganya. Ia senantiasa memberikan waktu luang yang ia miliki untuk anak-anak dan suami tercinta meski tentu saja waktu yang ia berikan tidak sebanyak  yang diberikan ibu rumah tangga seperti ibuku.  Umm, apakah anak-anaknya dan suaminya bahagia? Hei, aku sendiri juga wanita. Lalu, akan menjadi ibu seperti apa, aku kelak?

Aku tadinya hendak bertanya lagi kepada wanita itu, apa sebenarnya yang hendak ia cari dalam hidup namun tiba-tiba ia menutup penjelasannya dengan berkata, “Ibu yakin, kamu juga pasti bisa. Carilah seseorang yang bisa mendukungmu itu, menikah dan berjuanglah bersama. Ngomong-ngomong kapan lulusnya?”.

Aku? Menikah? Meski sempat terpikir untuk menjadi ibu, pernikahan sama sekali belum terpikirkan saat ini. Satu-satunya yang kupertanyakan saat ini adalah bagaimana seorang manusia—tepatnya seorang wanita—mendefinisikan mimpinya.  Bulan April akan datang 5 bulan lagi lalu apa yang sebaiknya kulakukan setelah ini? Melanjutkan sekolah? Bekerja? Atau… Berkeliling dunia? Apa yang berarti dari semua itu? Apa yang berarti dari mimpi itu? Apa yang benar-benar aku inginkan? Baiklah mari kita cari jawabannya sambil mengelilingi sebagian dataran Eropa. Siapa tahu akan ada jawaban dan inspirasi, gumamku.

Setelah semua urusan sponshorship selesai aku pamit dan meninggalkan gedung itu. Dinginnya ruangan AC berganti dengan panasnya udara Jakarta. Dari ruang kantor yang mewah dan nyaman, pandanganku kini berganti menjadi trotoar yang dipenuhi pedagang asongan, jalanan yang macet, sampah yang menumpuk di selokan air, dan pengemis yang meminta-minta. Gap yang sangat terasa.

Ah, Indonesia memang padat! Bahkan sangat sulit untukku mendapatkan tempat duduk yang nyaman di dalam busway. Seberapa efektifkah kebijakan busway yang dikeluarkan untuk mengatasi kemacetan? Apa yang ada di balik kemacetan ini adalah sebuah kegagalan perencanaan kota dan kegagalan pemerintah untuk mendistribusikan pertumbuhan ekonomi. Apa yang membuat macet bukanlah sekedar terbatasnya jalan dan meledaknya jumlah kendaraan, tetapi juga ketiadaan perencanaan sistem transportasi jangka panjang, juga karena adanya fenomena urbanisasi  akibat distribusi ekonomi yang timpang!

Setelah puas mengkritik dalam hati, aku kembali teringat wajah wanita tadi. Sambil terus bergantung-gantung di dalam Busway, dan di tengah-tengah aroma kecut dari keringat manusia yang berdesakkan, pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepala. Seberapa banyakkah manusia yang bertanya tentang ini? Bukan hanya peradaban kini, mungkin setiap peradaban pun mempertanyakannya. Seperti biasa, aku mengambil handphone dan mengupdate status di jejaring sosial,

“Apa pencapaian tertinggi dari seorang manusia?” Oh tidak, itu terlalu umum. Sepertinya pertanyaannya akan lebih bagus kalau dispesifikkan saja menjadi…

“Apa pencapaian tertinggi dari seorang wanita?”

Ok. Posted. Sekarang mari kita cari jawabannya!  :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s