Eropa, Mekkah dan Bumi Parahyangan

Eropa dengan segala isinya itu mimpi, namun mekkah serta serambi madinah itu rencana.
(Twit dari seorang teman)

Tak sengaja membaca itu ketika membuka home twitter, aku jadi tertawa sendiri. Karena dua tempat yang disebutkan kebetulah adalah daerah yang paling ingin aku kunjungi. Menarik juga bagaimana ia membedakan mimpi dan rencana. Secara sekilas sang pemilik twitter menekankan lebih pada rencana daripada sekedar mimpi; seakan rencana lebih mungkin untuk dieksekusi dibandingkan mimpi. Ah, jadi ingin sedikit bercuap-cuap tentang Eropa, Mekkah, dan dataran yang kupijak saat ini.­čÖé

EROPA

Twit seorang teman di Jogja itu┬ámengingatkanku pada sebuah mimpi lamaku untuk melanjutkan s2 ke daratan Eropa. Mimpi yang kupendam sejak pertama kali membaca sejarah Eropa di SMA dulu. Mengapa Eropa? Apa yang membuat negeri itu begitu menarik? Fenomena Reinnassance bagiku adalah sebuah realita kemanusiaan dan pemikiran, dimana doktrin-doktrin manusia atas nama agama berbuah pemikiran kritis. Selain dataran Spanyol (Andalusia), benua Eropa yang lain juga menyisakan pertanyaan besar kepada peradaban Islam, ia menjadi salah satu benua yang belum ter-futuhat (tertakluki) oleh dakwah Islam di bawah naungan khilafah Islamiyah (sebuah imperium global berbasis akidah Islam). Mengapa? Padahal sekumpulan manusia yang berpikir terbuka adalah salah satu peluang besar untuk pencerahan Islam itu sendiri bukan? Ya, mungkin belum diizinkan Allah dan mungkin karena kondisi internal kaum muslim sendiri yang belum memaksimalkan kausalitas untuk penaklukan Eropa saat itu. Ini membuatku semakin penasaran dengan Eropa, budayanya, manusianya, kehidupannya, peradabannya… Hal terakhir adalah alamnya!

Alasan lain yang membuat Eropa makin menggiurkan bagiku adalah ketika membaca biografi ilmuwan favortku Pak BJ Habibie, mengamati Prof. Fahmi Amhar dan juga beberapa dosen yang menuntut ilmu di negeri Eropa. Semakin kuamati, terdapat berbagai perbedaan antara mereka yang menempuh pendidikan di Eropa dan mereka yang belajar di Negeri Jepang atau Amerika. Kultur berpikir yang terbuka, santai, ilmiah, dan “elegan”. Jika kubandingkan dengan Jepang misalnya, kultur berpikirnya sedikit kaku dan ketat. Sangat berbeda dengan Amerika yang begitu bebas dan berorientasi pasar/bisnis. Ilmu Teknik Industri sendiri pertama berkembang di Amerika, tapi dari segi kultur berpikir dan lingkungan menuntut ilmu tadi, Eropa jauh lebih memikat. *Sepertinya memang melakukan generalisasi, karena info yang kudapat tentu masih sedikit.*

Oke, mari berpikir! Jika alasannya adalah sebuah kepenasaranan saja.. Maka aku jadi teringat akan komentar seseorang di salah satu jejaring sosial, “Sur, kamu terlalu mengunderestimate dunia maya“. Kalau kupikir-pikir benar juga. Untuk mengetahui dan mempelajari Eropa aku tak perlu belajar di eropa kan ya? Kita bisa mengakses informasi mengenai Eropa dari buku-buku dan dunia maya. Pun jika itu hanya sebuah kepenasaranan untuk sekedar jalan-jalan, sesungguhnya aku pun sangat bersyukur kepada Allah yang telah memberikan hadiah indah di akhir masa kuliah tahun 2010 lalu. ┬áAkhirnya bisa juga menapaki dataran Eropa meski hanya 11 hari.

Hmm… Sepertinya ini bukan sekedar “ingin tahu”, tapi sebuah hasrat untuk mengalami petualangan hidup. Mungkin pernyataan yang paling pas adalah pernyataan Imam Syafi’ie mengenai pentingnya melakukan petualangan ilmu. Petualangan di sini bukan sekedar membaca buku, tapi “melakukan migrasi fisik” itu sendiri, bahkan Imam syafi’i menganjurkan para petualang ilmu untuk keluar dari kampung halaman. He he he, kalo gitu, aku pun sudah terlalu jauh meninggalkan kampung halaman.­čśÇ

Sebenarnya… Kepenasarananku mengenai Eropa sudah berkurang dibandingkan 2 tahun yang lalu, sejak mengunjunginya baik di dunia nyata maupun mengeksplorasi dunia maya. Selain itu, memilih bagian bumi yang mana yang akan kita pijak, tidak bisa lepas dari berbagai pertimbangan mengenai kondisi. Jika saja, saat ini bisa bebas berencana dan mengambil keputusan secara sepihak. Urgensitas dakwah di tengah-tengah masyarakat memang menjadi satu bagian penting yang tak bisa tak dipikirkan.

Ya dakwah bisa dimanapun, tapi┬ádimana sumber ilmu untuk terus mempelajari Islam? Aku sendiri masih merasa sangat kurang dalam tsaqafah Islam. Ingin rasanya untuk membekali diri dengan ilmu-ilmu yang wajib sebelum menggali keilmuanku saat ini. Bahasa Arab, Ushul Fiqh, Ulumul Hadist, Ilmu Tafsir… Ah, tuh kan.. Makin merasa diri ini sangat-sangat bodoh dan miskin ilmu. Sungguh aku begitu cemburu kepada para ulama yang senantiasa berbagi ilmu padaku di majelis-majelis ilmu. Ingin rasanya aku menggali ilmu Islam sebelum mendalami lebih lanjut keilmuan Teknik Industri.. Atau bisakah keduanya berjalan berdampingan?

Masalahnya, saat ini kita tidak bisa mengambil keputusan hanya untuk mendalami ilmu saja. Ada pertanyaan lain untuk kaum muslim, siapapun itu: dimana daerah yang paling feasibel dan paling urgent untuk kita terjun bersama jamaah dakwah? Dan yang terakhir, dimana kita lebih dibutuhkan?

Hidup memang prioritas. Eropa bagiku adalah sebuah objek studi. Menimba ilmu bisa dimanapun. Lagipula, diri ini  mulai jenuh dengan dunia akademik formal. Jika Allah berkehendak pasti kesempatan itu akan datang. Jika tidak, maka sesungguhnya dataran Eropa sangat tidak lebih indah dibandingkan jannah-Nya. Semangat!

Serambi Mekkah

Dibandingkan Eropa, aku malah jauh lebih ingin mengunjungi Mekkah dan Madinah. Napak tilas perjuangan rasul langsung di tempatnya sambil diniatkan untuk melakukan ibadah adalah petualangan yang jauh lebih indah daripada jalan-jalan ke negeri manapun di muka bumi. Rindu untuk melihat ka’bah yang kepadanya sholat ini diarahkan. Penasaran dengan masjid Nabawi, masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasul. Ingin sekali melihat langsung gua hira. Selama ini aku hanya mendengarkanya dari cerita hadist dan quran. Oh ya, aku juga ingin sekali mengunjungi Jabal Rahmah: bukit berbatu yang menjadi saksi abadi sejarah pertemuan Adam dan Hawa setelah ratusan tahun berpisah setelah diturunkan dari syurga. Jabal Rahmah juga adalah tempat turunnya wahyu terakhir. Ya…┬áMakin dibahas, makin banyak alasan untuk mengunjungi negeri para nabi. Ya, mari kita berdoa dan berusaha. Semoga suatu saat nanti Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk mengunjungi daerah ini. Aamiin…

Bumi Parahyangan

Akhirnya, mari kita bahas daerah yang sedang kupijak saat ini. Dataran sunda. Tadinya tidak pernah kepikiran untuk berpetualang ke bumi parahyangan. Jika tidak diterima di sebuah institusi pendidikan di sini, mungkin aku tidak akan pernah kesini sama sekali. Tapi, justru di sinilah Allah swt mengarahkanku untuk belajar. Lebih dari itu, di sini pula aku bertemu berbagai hal yang mengubah arah hidupku setelah berinteraksi kepada manusia-manusia di dalamnya, dengan segala permasalahannya. Untuk pertama kali, aku merasakan di luar zona nyaman. Untuk pertama kali merasakan pengalaman merantau. Untuk pertama kali bisa merasakan kekecewaan. hehehe…­čśÇ

Aku sangat suka alam di Bandung. Meski makin lama, untuk beberapa lokasi, rasanya makin gerah saja. Iklim yang kusuka adalah iklim pegunungan yang sejuk di sebagian daerah juga pemandangan pegunungan yang hijau nan asri. Semua ini membuatku merasa betah di sini. Bandung memang ideal untuk dijadikan tempat menuntut ilmu. Sayangnya, penataan kota Bandung mulai bergeser menjadi pusat belanja. Bandung jadi makin ramai oleh penduduk dari Jakarta setiap weekend. Ah, aku pun merasa bersalah, ikut menambah kepadatan penduduk di Bandung.

Di balik itu, ada beberapa hal yang tidak kusuka dari Bandung: penduduknya yang sunyi senyap. Dingin, minim akan panasnya semangat pergerakan. Entah, mungkinkah ada relasi antara iklim dan karakter masyarakat? Ini menjadi tantangan tersendiri bagi siapapun yang memilih tinggal di kota ini.
Baiklah cukuplah kita bercuap-cuap mengenai 3 daerah itu. Pada akhirnya, dimanapun, selalu ada tantangannya sendiri. Tak perlu khawatir. Dimanapun kita berpijak, di sana tempat perjuangan untuk meninggikan kalimatullah di muka bumi. Selayaknya kapal, biarkanlah angin yang akan menuntun kemana layar ini akan mengarahkan. Peganglah kendali kehidupan sebaik mungkin sambil menuntaskan visi misi suci dari Sang Ilahi.

Selamat pagi bumi, selamat pagi sahabat. Mari kita berjuang hari ini!

Bandung, 6 Oktober 2011

One thought on “Eropa, Mekkah dan Bumi Parahyangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s