Belajar Berempati

Akhir-akhir ini, jadi dihadapkan pada kondisi yang menuntut implementasi dari semua teori schedulling, optimizing, budgeting, negotiating dan organizing. Mengambil keputusan untuk menghadapi suatu masalah dan tujuan berdasarkan sejumlah keterbatasan. (mata kuliah Operational Research bangeeet, hehe). Tapi, dari semua itu, ada satu hal yang belum pernah kutemui sebelum-sebelumnya di ruang kuliah. Bagaimana melibatkan empati dalam mengambil keputusan?

Mungkin akan sangat mudah bagi kita mengumpulkan sejumlah opsi solusi lalu mengambil keputusan final berdasarkan perhitungan angka atau logika matematika. Mana yang meminimasi biaya? Mana yang bisa memaksimalkan output? Tapi, apakah itu berarti yang terbaik? Apa itu yang terbaik?

Hidup bukanlah soal our own view. Di sana kita hidup bersama orang lain. Kita punya kepentingan, orang lain pun sama. Meski, pada satu kondisi, dimana kita memiliki kesamaan tujuan dengan manusia-manusia yang lain, bukan berarti logika pengambilan keputusan tadi akan melibatkan variabel-variabel yang sama. Di sanalah, urgensitas adanya empati menjadi diperlukan. Di sanalah, angka-angka hasil optimasi menjadi sedikit “berkurang” artinya.

Empati, adalah suatu kondisi dimana kita bisa merasa bagaimana orang lain merasa. Kita bisa memikirkan bagaimana orang lain berpikir. Berempati berarti kita meleburkan sekat antara aku dan kamu, aku dan dia, aku dan kalian, aku dan mereka. Yang ada adalah “kita”. Apa yang terjadi ketika kita sudah menjadi kita? Atau kita mencoba menjadi kita?

Di sana akan ada peleburan view satu sama lain, saling mengerti, saling memahami. Menurutku, inilah langkah awal yang membuat seorang decision maker mencapai kebijakan (wisdom). Di sinilah yang menjadi batas-batas engineer dalam mengambil keputusan, dia tak lagi bisa mengandalkan teori-teori yang ada, tapi yang ia butuhkan adalah bagaimana memahami manusia untuk mengambil suatu keputusan. Dan ini berlaku tentu saja bukan untuk engineer, tapi siapapun yang hendak berinteraksi dengan manusia: seniman, sastrawan, pebisnis, pemikir apalagi mereka yang bermain di area politik (kepengurusan publik).

Ah, bicara apa aku ini? Baiklah mari kita ambil suatu contoh. Ketika kita berada di posisi ketua rapat untuk meraih suatu keputusan, lalu ada seorang anggota yang mengalami masalah dan memohon izin untuk diundur. Kebijakan apa yang akan kita ambil? Logika pertama, (jika masih mengacu pada view kita yaitu mendapatkan hasil rapat), adalah dengan menimbang-nimbang kelayakan alasan anggota tadi, apakah bisa rapat diundur hanya karena salah satu anggotanya bermasalah? Logika kedua, apakah ketidakhadiran anggota tadi akan berpengaruh signifikan pada hasil rapat? Logika ketiga, bagaimana urgensitas keluarnya hasil rapat tadi?

Di sini, seorang pemimpin rapat yang berempati tidak hanya akan melibatkan viewnya sebagai seorang pemimpin rapat (untuk mendapakan suatu keputusan). Ia juga akan melibatkan, tujuan rapat, dan perasaan/pemikiran anggota rapat tadi. Jika si A tidak hadir, apa yang akan ia pikirkan? Bagaimana dengan anggota yang lain? Jika rapat diundur, apa yang akan terjadi? Bahkan, ia pun akan “mendobrak” batasan awal, misalkan: tak masalah rapat diundur melanggar deadline, karena kehadiran seluruh anggota rapat adalah lebih penting dari semua itu. Atau ia ingin memudahkan, rapat tetap dilaksanakan, tapi si A akan diminta pendapatnya dan diizinkan memenuhi keperluannya.

Intinya bukan pada keputusan si pemimpin rapat, tapi bagaimana ia memahami masalah yang ada. Bagaimana ia memahami kondisi personal yang ia pimpin untuk meraih tujuan bersama. Di sinilah seni berempati. Jika ia bisa bijak , ia bukan hanya mendapatkan hasil  keputusan rapat tadi, tapi ia bisa membangun loyalitas dari anggota yang ia pimpin. Indah bukan?

Masih bingung? Ya, kita ambil contoh Rasulullah saw sebagai sebaik-baik suri tauladan. Bagaimana sikap beliau ketika menghadapi seorang Arab badui yang mengencingi masjid? Beliau dengan sabar menahan para shahabat yang ingin memarahinya, dan justru menyuruh para shahabat menyirami dinding masjid dengan air. Sikapnya sangat berbeda ketika melihat Umar bin Khattab membawa lembar Taurat. Mengapa? Karena Rasul berempati pada seorang Arab badui dan Umar bin Khattab. Siapa yang belum mengerti, siapa yang sudah mengerti. Bagaimana karakter mereka, dan bagaimana menyikapi mereka?

Contoh lain? Ketika sebuah partai politik/gerakan Islam hendak mengkampanyekan pemikiran-pemikirannya ke tengah-tengah ummat, maka cara ia berempati dengan masyarakat adalah dengan mempelajari masyarakat itu sendiri. Apa masalah mereka? Bagaimana pola pikir mereka? Bahasa seperti apa yang mereka pahami? Dengan ini, mereka tidak akan berdakwah secara sembarangan. Asal menyebar buletin, asal mengajak diskusi, asal nembak.. he he he…

Dan yang perlu menjadi catatan akhir, berempati bukan berarti mengkompromikan prinsip-prinsip fundamental. Bukan berarti  sekedar “menyenangkan manusia”. Mengkritik juga bisa berarti berempati. Kita paham mengapa seseorang melakukan kesalahan, makanya kita berusaha agar  ia tahu bahwa itu salah dengan cara yang memudahkan pemahamannya tadi.

Dan.. dalam empati yang kita butuhkan adalah kepekaan dan penyikapan. Belajarlah mendengar, belajarlah mengamati. Ah, diri ini pun masih belajar. Mari sama-sama belajar!

Bandung 30 September 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s