Rumah dan Esok Hari

Genap  24 purnama kutinggal, dan semua kian tak sama rupa. Ketika kau temukan uban bertambah diantara hitamnya rambut ibu, saat itu hati pun bertanya, “sudah seberapa mengabdikah dirimu?”. Ketika paras ayah mulai dihiasi dengan kerutan yang bertambah, saat itu diri bergumam, “berapa sisa masa untuk berbakti padanya?”. Adik pun beranjak dewasa. Jika dulu ia bercerita tentang kepenasaranannya tentang dunia, kini ia mengeluhkan jerawat yang mulai tumbuh atau kisah-kisah romantisme remaja. Terselip sedih di hati, bisakah diri ini menjadi kakak yang baik untuknya? Yang senantiasa mendengarkan curhatan dan berbagi nasihat? Ah, mengapa aku memilih melangkah sekian jauhnya untuk menuntut ilmu, 5 tahun yang lalu? Makin aku sadar, ada sesuatu yang harus kubayar untuk semua yang kudapatkan selama ini: jarak yang terbentang antara aku dan orang-orang yang aku kasihi.

Sahabat-sahabat masa kecil pun sudah menapaki cerita hidup masing-masing. Ada yang berhasil, ada yang gagal, sebagian besar sedang menikmati proses tuk mengukir cerita masa depan. Ah, Tuhan, lagi-lagi aku bertanya, mengapa semua berjalan begitu cepat?

Sebuah buku kutemukan di sebuah lemari lama. Kumpulan diary masa muda, berisi seribu mimpi dan ambisi. Aku hanya bisa tersenyum membaca semua itu. Dan air mata yang bercucuran ini adalah rasa bahagia. Ya, bahagia, karena Allah begitu baik telah memberikanku kisah yang indah untuk menjadi manusia.

Jika boleh kubandingkan, diaryku yang baru berisi ribuan kekecewaan. Ekspektasi yang berbenturan dengan realita, membuat perjalanan 5 tahun ini tak seindah masa-masa ketika di rumah dulu. Tapi, aku pun berpikir, justru di sanalah aku belajar. Boleh jadi, dengan itulah aku belajar dewasa. Haha, apakah itu dewasa?

Mulailah kening ini mengerut, dan tanganku melambat untuk mengetikkan rangkaian kata selanjutnya. Jujur, belum tuntas aku mendefinisikan apa itu dewasa. Apakah ia konsekuensi alami dari dimensi waktu? Apakah ia berkorelasi dengan akumulasi informasi dan pemahaman seseorang? Apakah ia pilihan atau akibat dari berbagai kondisi?

Tuhan… aku tak ingin terlalu banyak berkontemplasi saat ini. Esok adalah sesuatu yang pasti. Dan, waktu terus berputar. Sedang aku pun tak terlalu percaya diri dengan catatan amal sejauh ini. Apakah ridha-Mu benar-benar telah kumiliki?

Kembali ke rumah memang nyaman rasanya. Suatu tempat engkau bisa menumpahkan rasa penat dan lelah setelah menghadapi peradaban di luar sana. Tetapi di tengah-tengah perubahan yang terindera di balik atap ini, sebuah tanya muncul, tentang esok hari. Tentang hal-hal yang sedang dan akan kupilih.

Dan kini, aku merasa sedih. Dengan apa aku akan membahagiakan mereka. Dan kini, aku merasa cemas. Berapa lama sisa masa untuk mengabdi pada mereka?

Tuhan, hanya kepada-Mu kutitipkan semua yang aku cintai.
Hanya kepada-Mu kuserahkan sisa detik yang kumiliki.
Tunjukkan aku jalan terbaik untuk mengabdi.
Bimbinglah aku untuk esok, ajari aku cara untuk menjadi.
Untuk setiap hal yang aku pilih..
Untuk rumah yang sesungguhnya, di esok hari..

Jayapura, 5 September 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s