Selamat Datang, Mahasiswa Baru!

“Seumur hidup kita bisa menyandang predikat sebagai manusia, hingga mati insya Allah kita bisa memilih terus menjadi muslim, tapi tidak selamanya kita bisa menjadi mahasiswa. Untuk itu, jangan mau jadi mahasiswa biasa. Jadilah mahasiswa yang cerdas! “

Teruntuk adik-adikku, sahabatku..

Agustus sebentar lagi. Bulan dimana sebuah ritual akademik tahunan terjadi. Seusai pengumuman kelulusan SMA dan pengumuman kelulusan seleksi masuk Perguruan Tinggi, akhirnya sejumlah pelajar SMA bisa menggandeng gelar “mahasiswa”. Sebuah gelar yang kalian tunggu-tunggu selama ini bukan? Merasa senang, syukur, dan bangga? Tentu saja! Bagaimana tidak? Gelar ini bukanlah gelar biasa. Untuk meraihnya, sahabat harus mengerahkan segenap jerih payah untuk mengikuti seleksi baik dari seleksi akademik maupun seleksi ‘finansial’. Berbulan-bulan dibutuhkan untuk mempersiapkan menghadapi ujian masuk. Pun, setelah diterima, banyak orangtua yang harus menyediakan dana hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Di sisi lain, jika kita telisik lagi, tahun ini tercatat hanya 118.233 orang dari 540.953 yang mendaftar SNMPTN berhasil masuk ke perguruan tinggi [1]. Statistik pada tahun 2010 menujukkan sekitar 77 % lulusan SLTA saat ini belum punya kesempatan menikmati bangku kuliah. Dibandingkan jumlah penduduk Indonesia se­kitar 250 juta, angka Partisipasi Kasar (APK) untuk jenjang pendidikan di PT pun masih minim, sebagaimana yang disampaikan Menteri Pendi­dikan Nasional Mu­ham­mad Nuh bahwa APK di perguruan tinggi saat ini cuma mencapai 23 persen [2].

Melihat angka-angka itu, jelaslah sahabat-sahabat yang berhasil menyandang gelar mahasiswa adalah orang yang terpilih, tidak semua anak seberuntung itu bisa mengenyam bangku perkuliahan. Maka, menjadi mahasiswa adalah nikmat Allah yang harus disyukuri. Satu pertanyaan yang mengawali tulisan ini, apakah kesempatan ini akan dilewatkan begitu saja?

Kuliah, Untuk Apa?

Gerbang kampus telah terbuka di depan mata. Seragam putih abu-abu telah berganti. Iklim belajar pun tak lagi sama. Mau tidak mau, euforia menjadi mahasiswa tetap harus diiringi dengan kesiapan dan kemandirian. Kemandirian di sini tidaklah hanya sebatas bisa belajar sendiri,tapi juga butuh kesadaran akan kemana dan bagaimana aktivitas-aktivitas di kampus akan diarahkan. Tak ada lagi guru yang intensif mengawasi, tak ada lagi jadwal harian seperti SMA dulu. Saat menjadi mahasiswa, semakin terasa perlunya kemandirian untuk mendefinisikan diri dan makna kehidupan itu sendiri. Di sinilah awal mula sahabat belajar menjadi manusia dewasa, manusia seutuhnya.

Sebagai muslim yang beriman kepada Allah swt, kita meyakini bahwa setiap jengkal kehidupan adalah untuk beribadah kepada-Nya. Maka sudah seharusnya momentum menjadi mahasiswa ini diiringi dengan rasa syukur yang mendalam kepada Allah swt dengan menempa diri agar menjadi hamba yang lebih taat kepada Allah swt. Dengan keimanan dan ketaatan inilah, seorang mahasiswa baru memikirkan ulang, untuk apa berada di kampus, apa saja yang akan ia lakukan, dan bagaimana menghabiskan 4 tahun ke depan. Jika telah tuntas dalam pertanyaan ini, maka kampus tidak lagi sekedar ajang unjuk eksistensi diri, perkuliahan bukan sekedar untuk meraih IP tinggi dan gelar cumlaude, kegiatan ekstrakurikuler bukanlah semata untuk melepas penat, dan ijazah bukan sekedar tiket untuk meraih pekerjaan dan uang. Semua itu boleh saja dicapai, tapi bukanlah motivasi utama. Karena seorang hamba sudah seharusnya sadar, ada sebuah motivasi suci dan mulia yang melandasi semua itu: menuntaskan visi misi sebagai manusia.

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz–Dzariyat: 56 )

Inilah dasar motivasi seorang muslim menguasai ilmu tidak lain sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Begitu pula, alasan menjadi mahasiswa adalah untuk meraih pahala karena besarnya pujian Allah kepada orang-orang yang berilmu.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menjalani suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka dianugerahi Allah Ta’ala kepadanya jalan ke surga” (Dari Abu Hurairah HR Muslim).

Abu Dzar R.A menyampaikan bahwa Rasulullah SAW berkata: “Bahwa sesungguhnya engkau berjalan pergi mempelajari suatu bab dari Ilmu adalah lebih baik daripada engkau melakukan shalat seratus rakaat” (HR Ibnu Abdul-Birri).

Dakwah: Bentuk Syukur menjadi Mahasiswa

Lantas, bagaimana mewujudkan rasa syukur dan pengabdian kita kepada Allah swt selama menjadi mahasiswa? Allah swt berfirman,

“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu.” (QS. Al-Baqarah : 152)

Ali Ashshabuni dalam Shafwaat al-Tafaasir menyatakan, “Ingatlah kalian kepadaKu dengan ibadah dan taat, niscaya Aku akan mengingat kalian dengan cara memberi pahala dan ampunan.” Sedangkan firman Allah swt, “bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu,” bermakna “Bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu dan jangan mengingkarinya dengan melakukan dosa dan maksiyat.”

Telah diriwayatkan bahwa Nabi Musa as pernah bertanya kepada Tuhannya, “Ya Rabb, bagaimana saya bersyukur kepada Engkau?” Rabbnya menjawab, “Ingatlah Aku dan janganlah kamu lupakan Aku. Jika kamu mengingat Aku sungguh kamu telah bersyukur kepadaKu. Namun, jika kamu melupakan Aku, kamu telah mengingkari nikmatKu.” (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir I/142)

Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa syukur harus direfleksikan dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah swt dan meninggalkan maksiyat. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Imam Ali Al-Shabuni. Ibadah dan taat kepada Allah swt serta meninggalkan larangan-larangan Allah merupakan perwujudan rasa syukur yang sebenarnya. Bagaimana bentuk syukur seorang mahasiswa? Kampus sendiri membuka luas kesempatan untuk mencari dan berbagi ilmu yang merupakan perkara fardhu. Namun, kita tidak hanya diperintahkan untuk menjadi pribadi hanief, sendiri-sendiri. Allah juga memerintahkan kita untuk memperhatikan dan memperbaiki masyarakat. Aktivitas apakah itu? Tidak lain, tidak bukan, itu adalah dakwah.

“Barangsiapa yang bangun pagi tetapi dia tidak memikirkan kepentingan umat Islam maka dia bukan umatku (umat Nabi Muhammad saw)” (HR. Muslim)

“Ibadah hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah memberikan nasihat.” (Dikeluarkan oleh ath-Thabrâni dalam kitab al-Kabir)

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Sebagai mahasiswa muslim, kita wajib ikut serta dalam perubahan dengan menjadi generasi penerus perjuangan menuju tegaknya peradaban Islam. Sebagaimana yang diperjuangkan oleh Rasulullah saw dan pengikut-pengikutnya, syiar Islamlah yang seharusnya menjadi poros hidup mahasiswa. Maka, besarnya akses informasi dan dinamika kehidupan mahasiswa ini tidak lain adalah kesempatan besar untuk syiar Islam di kampus. Silakan mengembangkan penelitian di lab, aktiflah di himpunan, unit-unit kemahasiswaan, atau badan eksekutif mahasiswa. Jika tertarik, kenapa tidak mencoba mengikuti berbagai perlombaan dan event-event di luar kampus. Yang jelas, apapun aktivitas dan lingkungan yang kelak akan sahabat pilih, jadikan itu kesempatan untuk belajar dan berbagi tentang Islam.

Kejar Ilmu, Bangun Komunitas, Bergaul dan Saatnya Berkreasi!

Pertanyaannya, dimulai dari mana dan bagaimana? Apa saja sekiranya perlu dipersiapkan?

Pertama, bekal ilmu dan niat yang kuat. Dua syarat diterimanya sebuah amal adalah ketika ia sejalan dengan apa-apa yang diperintahkan Allah dan niat yang murni semata karena Allah. Dengan ilmu, seorang mahasiswa tidak hanya mengetahui baik-buruk, benar-salah, ia juga dapat menganalisis realita dan permasalahan yang ada juga membangun sikap dan solusi atasnya.

Kedua, komunitas untuk belajar dan berjuang bersama. Janganlah lelah mencari telaga ilmu dimanapun dan siapapun itu. Kejarlah orang-orang dan komunitas yang dengannya kita bisa mempelajari Islam lebih dalam, yang dapat memperkuat kita untuk istiqomah dalam kebaikan, serta mengingatkan kita dari keburukan.

Ketiga, membaurlah. Jangan berpuas diri hanya pada perkuliahan, buku-buku kajian atau komunitas yang “itu-itu” saja. Terjunlah, hingga ke pojok-pojok kampus. Temuilah sebanyak mungkin mahasiswa. Cari dan bagilah pencerahan. Untuk itu, kenali terlebih dahulu kondisi struktural dan kultural di kampus. Lalu, carilah strategi tepat untuk menyampaikan Islam di komunitas sekitar.
Keempat, cari sendiri caramu! Beda kampus, beda generasi, beda kondisi, beda isu, beda juga ceritanya. Kehidupan kampus yang dinamis membuat setiap mahasiswa harus bisa menyesuaikan diri dan memformulakan strategi agar bisa bertahan. Justru di sinilah seninya menjadi mahasiswa, berkreasi!🙂

Mahasiswa ‘Cerdas’ dan Konsekuensinya

Mempertimbangkan sistem yang ada saat ini, melaksanakan semua itu tentu tak akan mudah. Siap-siaplah untuk dikejar-kejar laporan praktikum, jadwal kuliah yang padat, ujian yang sambung-menyambung, bahkan mungkin mengambil pilihan-pilihan yang dianggap “aneh” atau membuat kita berbeda dari kebanyakan mahasiswa. Jika memang sudah mencintai semua itu, insya Allah tidak akan jadi beban. Juga, jangan pernah takut. Seketika kita memilih suatu keputusan, siap-siaplah menerima konsekuensinya. Lagipula, bukankah di akhir zaman, Allah telah mengabarkan orang-orang yang memegang teguh Islam akan menjadi orang-orang yang asing? Jadi, enjoy aja!

Ya, mungkin tulisan ini masih umum. Namun, setidaknya, satu harapan, semoga tulisan singkat ini bisa menginspirasi sahabat-sahabat.. Ingatlah.. Seumur hidup kita bisa menyandang predikat sebagai manusia, hingga mati insya Allah kita bisa memilih terus menjadi muslim, tapi tidak selamanya kita bisa menjadi mahasiswa. Untuk itu, jangan mau jadi mahasiswa biasa. Jadilah mahasiswa yang cerdas!

Dari Ibnu ‘Umar RA ia berkata : Saya datang kepada Nabi SAW, kami serombongan sebanyak sepuluh orang. Kemudian ada seorang laki-laki Anshar bertanya, “Wahai Nabiyallah, siapa orang yang paling cerdas dan paling teguh diantara manusia ?”. Nabi SAW bersabda, “Orang yang paling banyak mengingat mati diantara mereka dan orang yang paling banyak mempersiapkan bekal untuk mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat” (HR. Thabrani di dalam Ash-Shaghir)

Selamat datang,

Selamat bertanya, selamat mencari, selamat berkarya!

Seseorang yang merindukan masa-masa menjadi mahasiswa.

Bandung, 20 Juli 2011

__________

[1] http://www.indonesiatoday.in/info-harga/118-233-peserta-lulus-snmptn-2011

[2] http://ekbis.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=16735.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s