Perempuan di Ranah Publik dan Seputar Hukum Safar

Pada kehidupan saat ini, seorang wanita memiliki akses yang lebih besar untuk beraktivitas di luar rumahnya, baik untuk menuntut ilmu, bersosialisasi, berdakwah, bekerja maupun mengerjakan hal-hal lainnya. Daya dukung teknologi transportasi, teknologi informasi, dan semakin terbukanya ranah publik bagi kehadiran wanita dalam aspek sosial, membuka peluang-peluang bagi kaum Hawa untuk melakukan mobilisasi antarkota, antarprovinsi bahkan antarnegara. Suatu fenomena yang berbeda dengan kehidupan beberapa abad yang lalu.

Kesadaran bahwa seluruh aktivitasnya sehari-hari tak pernah terlepas dari hukum-hukum Allah swt mendorong para muslimah abad ini pun bertanya: bolehkah seorang wanita muslim keluar dari rumahnya, beraktivitas di ranah publik dan juga melakukan perjalanan sebagaimana kebanyakan wanita lainnya di era ini? Bagaimana sebenarnya Islam mengatur tentang hal ini?

Rumah, Domain Utama Wanita

Dalam Islam, dijelaskan tempat asal seorang wanita adalah di rumahnya. Allah swt berfirman,

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai AhlulBait(keluarga rumah tangga Nabi SAW) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab [33] : 33).

Meski konteks ayat ini ditujukan pada istri dan keluarga Rasul, implikasi hukum dari ayat ini juga ditujukan pada wanita dan keluarga muslim. Di sinilah, ruang hidup utama wanita ditentukan oleh Allah swt sesuai dengan fitrahnya. Sebuah perintah untuk menjaga kemuliaan dirinya dengan tidak mengumbar kecantikannya dan menjaga diri di dalam rumah. Ya, peran wanita di area domestik adalah posisi yang mulia dalam Islam dengan menjadikan ummu wa rabbatu al-baiti (ibu dan pengatur rumah tangga) sebagai tugas utama para muslimah.

Akan tetapi, apakah berarti perintah mulaazamatu al-buyut (menetap di rumah) pada ayat tersebut merupakan suatu bentuk isolasi bagi kehidupan para muslimah? Berkenaan dengan hal itu Rasul saw bersabda,

“Janganlah kalian larang kaum wanita pergi ke masjid-masjid Allah.” (Muttafaq ‘Alaih).

Dalam berbagai periwayatan di siirah Rasul, adanya majelis-majelis dan pembinaan Rasul pada para wanita zaman itu menunjukkan bahwa Islam pun mengizinkan kehadiran para wanita di ranah publik, terutama dalam hal menuntut ilmu dan amar ma’ruf nahi munkar. Aisyah ra terkenal dengan aktivitasnya menyampaikan hadist ke sahabat. Juga, As-syifa yang juga terlibat sebagai qadhi hisbah (hakim pasar). Demikian halnya dengan Asma binti Abu Bakar yang keluar rumah dan mengantarkan makanan kepada Rasul dan Abu Bakar saat bersembunyi di Gua Hira. Mulai dari kisah-kisah mengenai isteri-isteri Nabi yang ikut serta dalam peperangan hingga kisah para wanita yang mengkritik Khalifah Umar ra atas ketidakadilannya dalam penerapan mahar. Dalam Islam, jelas, wanita juga memiliki celah untuk maju dan beraktivitas ke ranah publik.

Selama seluruh aturan-aturan lain dipenuhi (tidak meninggalkan kewajiban di rumah, menutup aurat dan berpakaian lengkap, tidak bertabbaruj/sengaja mengumbar kecantikan, mendapatkan izin dari orang tua atau suami, menjaga diri dari fitnah, serta dalam rangka aktivitas yang wajib, sunnah atau mubah), para muslimah pun bisa beraktivitas di luar rumah. Meski demikian, aktivitas ini harus dikembalikan lagi kepada hukum yang terkait, misalnya, bagi wanita bekerja itu mubah, syiar Islam itu wajib, menuntut ilmu Islam itu fardhu ‘ain, menuntut ilmu untuk kemaslahatan ummat selainnya adalah fardhu kifayah, mengunjungi saudara itu sunnah, jalan-jalan itu mubah, dan lain sebagainya. Dengan keimanan dan ketaqwaan yang dimilikinya, seorang muslimah akan melakukan prioritas aktivitas dalam beramal semata karena ridha Allah.

Hukum Seputar Safar Wanita

Secara alami, aktivitas wanita akan ada pada area sekitar rumahnya. Namun, ada kalanya aktivitas para wanita ini menuntutnya untuk menempuh perjalanan jauh, baik untuk jangka lama seperti menuntut ilmu di luar kota atau luar negeri, atau untuk keperluan jangka pendek seperti berdagang, bekerja, menemui klien, mengikuti atau mengisi konferensi/seminar, mengunjungi saudara atau sahabat, dan lain sebagainya. Hal tersebut dibolehkan bagi seorang wanita asalkan seluruh hukum syara’ masih terpenuhi dan terjamin aspek keamanan dan keselamatannya.

Meski demikian, aturan lain dalam Islam yang perlu diperhatikan adalah hukum seputar perjalanan (safar) dari wanita. Rasulullah saw bersabda:

لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر تسافرُ مسيرة يوم وليلة إلا مع ذي محرم عليها

(أخرجه مسلم من طريق أبي هريرة رضي الله عنه)

“Tidak dihalalkan seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan perjalanan selama sehari semalam kecuali bersama mahramnya” (dikeluarkan oleh Muslim, dari jalur Abu Hurairah ra).

Dalil tersebut menunjukkan adanya batasan waktu perjalanan seorang wanita. تسافرُ ini berkenaan dengan aktivitas perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lainnya baik dengan jalan kaki atau berkendaraan. Jika perjalanannya melebihi satu hari (satu malam dan satu siang) hingga ke suatu tempat untuk menetap/singgah, maka wajib bagi seorang wanita untuk ditemani mahramnya. Perlu digaris bawahi batasan dalam dalil ini adalah batasan waktu perjalanan bukan batasan jarak tempuh. Dengan dukungan teknologi transportasi yang ada, maka mobilitas para wanita saat ini bisa mencakupi area yang lebih luas.

Lebih lanjut mengenai kategori mahram, Imam Syafii berpendapat kebolehan safar wanita sehari semalam ini asalkan disertai mahram atau bersama jamaah wanita. Sedangkan yang diadopsi oleh Hizbut Tahrir, mahram di sini hanyalah mahrom laki-laki. Adapun kasus spesifik seperti ibadah umrah/haji, Imam Nawawi sependapat dengan pendapat Syafiiyah yaitu perjalanan tetap tidak boleh sendirian. Begitu juga adopsi Hizbut Tahrir, umrah ini juga harus dengan mahrom laki-laki, meskipun safar haji atau umrohnya kurang dari sehari semalam karena telah ada dalil khusus yang membahasnya.

Kesimpulannya, wajibnya kehadiran mahram dalam perjalanan wanita jika lebih dari sehari semalam telah jelas dalam hadist di atas. Adapun perbedaan mengenai mahram di sini, apakah bisa disubstitusi oleh jamaah wanita dikembalikan pada masing-masing individu dengan mengambil salah satu pendapat darinya dan terus menggali kekuatan dalil yang ada.

Islam dan Wanita: Marginalisasi vs Proteksi?

Menyikapi aturan dan penetapan domain aktivitas wanita dalam Islam, yang terlintas di pikiran saya adalah berbagai klaim telah ditujukan pada Islam seputar wanita. Sebagaimana media-media Barat yang menyerukan black campaign pada kerudung dan burqa saat ini, atau kajian-kajian sosial dan kultural mengenai marginalisasi Islam pada wanita yang pernah saya baca. Mereka mengatakan aturan-aturan Islam ini bersifat bias gender dan akibat dari adanya dominasi pria dalam struktur sosial bangsa Arab saat itu. Sungguh, ini adalah sebuah fitnah besar dan praduga sepihak mereka. Apa yang dibawa Rasul semata adalah firman Allah swt dan itulah yang ditetapkan Allah untuk memuliakan dan melindungi  wanita.

Sebaliknya, pada saat Barat sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan liberalisasi wanita di tengah-tengah kehidupan muslim dengan ikut serta dalam ranah publik secara ‘bablas’ bahkan meninggalkan peran domestiknya, banyak para aktivis feminis yang mengkritik liberalisasi ini. Misalnya, dalam buku A Lesser Life : The Myth of Womens Liberation America (1986), Sylvia Hewlett mengulas dengan rinci kondisi wanita yang menyedihkan karena adanya gerakan feminisme. Miles Markjanli, seorang penulis Amerika yang ternama, menyuarakan dengan lantang agar kaum hawa kembali ke rumahnya dan mengambil peran utama mereka.

“Aku selalu berupaya meyakinkan para perempuan bahwa mereka lebih berhak untuk berlaku sebagai pendidik di rumah.”

Miles Markjanli

Muslimah Abad 21 dan Syiar Peradaban Islam

Islam, sebagai sebuah aturan yang sempurna dari Dzat Maha Sempurna dan Maha Mengetahui fitrah penciptaan dari wanita, telah memberikan sebuah konsep kehidupan yang memuliakan dan mendudukkan peran wanita. Menghadapi klaim-klaim Barat,  kaum Hawa abad ini harus sungguh-sungguh mempelajari ayat-ayat Allah dan mengejar ilmu yang bermanfaat, mengajarkannya ke tengah ummat dan juga memberikan contoh yang nyata woman empowering dalam perspektif Islam.

Muhammad Akram Nadwi dalam bukunya Al-Muhaddithat: The Women Scholars in Islam (2007) menguraikan partisipasi tingkat tinggi para Muslimah dalam menciptakan warisan kebudayaan Islam. Seperti kisah para wanita yang di antaranya sampai harus bepergian secara terencana ribuan mil hanya untuk mendengarkan hadits dari para narator yang merangkai sanad sampai ke Nabi. Mereka juga duduk dalam suatu majelis ilmu bersama dengan para lelaki ulama atau ilmuwan untuk berdiskusi, berargumentasi, menguji, atau bahkan membantah, sampai mereka mendapatkan apa yang diyakini memang berasal dari Rasulullah.

Maka bagaimana dengan zaman ini? Pada abad ini, di tengah-tengah keterpurukan ummat, tugas para kaum hawa adalah ikut serta mengkritisi kesalahan sistem kehidupan yang ada, menganalisa dan membangun rancangan sistem kehidupan untuk peradaban Islam kelak. Dalam koridor yang telah diberikan syara’ kepada wanita dalam ranah publik dan dengan menjadikan ridha Allah sebagai motivasi tertinggi, sebuah kewajiban bagi wanita saat ini untuk mengoptimalkan perannya dalam membangun sejarah peradaban manusia, serta di baris terdepan dalam memperjuangkan kelanjutan kehidupan Islam.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-nahl [16] : 97).

Referensi

  1. Hewlett, Sylvia. 1986. A Lesser Life : The Myth of Womens Liberation America.
  2. Surat Amir Hizbut Tahrir seputar Safar Wanita, 31 Mei 2003
  3. Nadwi, Muhammad Akram. 2007. Al-Muhaddithat: The Women Scholars in Islam. London: Oxford Interface Publications.
  4. Ebook “The role of Muslim Women in re-establishing the Khilafah.” http://khilafah.com/images/images/PDF/Books/pk-Role-of-Muslim-Women-English.pdf
  5. Miles Markjanli. “Rumah : Kerajaan Perempuan Tanpa Sengketa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s