Pencarian

Istana dan gemerlapnya kota, terasa hambar, tak ada rasa.

Peradaban nan matang dan ketinggian intelegensia? Semua jadi biasa.

Penat yang masih mengganjal, menuntut inspirasi, menjawab sebuah tanya.

Ah, kemana lagi aku mencari? Sudah terlalu jauh kakiku melangkah dari rumah.

Dan terdiamlah aku di jalan setapak,

Mendungak ke atas gunung salju, teringat akan mimpi dan keangkuhanku. Tinggi. Dingin.

Mengamati aliran sungai nan biru, perlahan, menyejukkan.

Bangunan-bangunan ini menceritakan sebuah masyarakat, sebuah peradaban.

Dan kembali, aku teringat akan penaklukan di sebuah negeri.

Ya, di negeri yang kupijak saat ini.

Lalu, kugenggam sebuah tasbih di saku. Licin, berbulir.

Alih-alih aku memuji nama Nya, aku justru berteriak dalam hati.

Duhai Dzat pemilik diri ini, Tunjukki aku!

Tolong, taklukkan hatiku, hancurkan egoku.

Begitu banyak daratan, begitu banyak pilihan

Begitu banyak mimpi dan capaian.

Dan di setiap negeri, ada ceritanya sendiri.

Ada sesosok nenek tua berjas tebal tersenyum padaku,

Uap dari mulutnya terlihat jelas di tengah dinginnya atmosfer luar.

Tekstur kulitnya tampak jelas, kering, kasar.

Lalu, terlintas gambaran diri, di akhir usia nanti.

Aku ingin segera pulang.

Jenuh dan penat ini harus kulawan.

Dan satu lagi, negeri ini akan tampak indah

tanpa aroma arak dan dengan kumandang adzan.

Interlaken, 19.10.2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s