Fajar pagi hari ini masih sama, setidaknya seingatku Januari kemarin fajarnya tidak jauh berbeda…
Fajar favoritku…
yang selalu kutunggu dan kunikmati ketika wajah ini masih segar dengan basuhan air wudlu…
Menghangatkan hati ini, yang sedang semangat-semangatnya mempersiapkan agenda 1 hari penuh…
Langit pagi, bagai kanvas gelap bertorehkan cat kuning oranye…
Mengingatkan tentang mimpi dan tujuan mengapa Ia mengirimkanku ke sini…
.
Tetapi, hari ini, aku memaknainya berbeda…
Bayangkan, setelah ratusan fajar yang menyambutku di tiap pagi…
Setelah ratusan hari yang Ia berikan pada ku…
Apa yang telah kulakukan? Apa yang telah kuberikan? Sejarah apa saja yang telah kuhasilkan?
Jejak apa saja yang telah kutinggalkan?
Aku bertanya lebih dalam…
.
Jangan-jangan
Fajar pagi, hanya bisa “menjebakku” dalam “kenyamanan”
Merasa nyaman, karena merasa telah berbuat banyak padahal sedikit
merasa telah berbuat besar padahal kecil sekali
.
Padahal, di belahan bumi yang lain, seorang pemuda sebaya denganku,
sedang menatap fajar yang sama, dengan tangisan di matanya
karena ayah dan ibunya meninggal terkena serangan rudal di Irak sana
.
Padahal bisa saja, seorang seorang pemuda sebaya denganku,
sedang menatap fajar yang sama, dengan simbahan darah di tepi Jalur Gaza
dan sedang merancang perjuangan apa yang ia kerjakan saat mentari tiba
.
seorang seorang pemuda sebaya denganku,
sedang menatap fajar yang sama, dengan hati gundah gulana
mengkhawatirkan, pelarangan jilbab dan kerudung di sekolah terhadapnya
.
seorang seorang pemuda sebaya denganku,
sedang menatap fajar yang sama, dengan secarik kertas kajian di tangannya
sedang sibuk menyiapkan materi mentoring tuk adik-adik nanti
.
seorang seorang pemuda sebaya denganku,
sedang menatap fajar yang sama, dengan spanduk dan umbul-umbul aksi
tuk menyuarakan kebenaran di depan penguasa yang buta dan tuli
.
Lihat, banyak sekali yang mereka lakukan,,
sedang aku?
hanya terperangkap dalam tugas dan buku-buku tebal itu
aku?
hanya terperangkap pada hedonisme dan sia-sianya waktu
aku?
hanya terperangkap pada aktivitas duniawi yang tak berarti
aku?
hanya bisa menonton dan menjadi kritikus sejati
aku?
hanya bisa memikirkan aku aku dan aku 5, 10, 20 tahun nanti
aku?
hanya bisa menulis di blog ini ^^
hph….
astagfirullah….
di akhir tahun ini
cuma satu doaku:
aku ingin menyambut fajar-Mu
dengan cara yang berbeda!
untuk itu
Ya Rabb,, beri aku 1 tahun lagi
atau paling tidak:
1 hari lagi: hari ini….