world, word, and me

Entries categorized as ‘Analisis’

Syariah dan Khilafah, Sebuah Tawaran untuk Indonesia yang Lebih Baik

July 30, 2009 · Leave a Comment

  • Kesimpulan:
    • Akar masalah dari keterpurukan Indonesia adalah masalah sistemik, untuk itu dibutuhkan pula upaya sistemik dalam memperbaiki dan membangkitkan Indonesia dari keterpurukan.
    • Islam menawarkan kepada kita sebuah sistem yang lengkap dan universal dalam menjawab pelbagai permasalahan di negeri ini secara tuntas dan komprehensif. Sebuah sistem yang menerapkan syariat Allah di berbagai bidang: ekonomi, pemerintahan dan politik (luar dan dalam negeri), pendidikan, sosial dan pelbagai aspek hidup lainnya tanpa terkecuali.
    • Nilai-nilai dari hukum Islam tidak independen satu sama lain yang tidak bisa diterapkan secara parsial. Dengan demikian dibutuhkan implementasi Islam secara kaaffah (komprehensif) dengan sebuah institusi politik yang menjamin terterapnya syariah yang akan membawa keadilan kepada seluruh manusia dan mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), kekhilafahan Islam.

    ***

    Tabuhan genderang pemilu mulai melambat. Sembari menunggu siapa yang akan menjadi pemimpin negeri ini 5 tahun ke depan, di hati setiap orang terisi sebuah harapan. Harapan untuk “Indonesia yang Lebih Baik”. Namun, sayangnya, banyak diantara kita yang berhenti hanya sampai disini tanpa memikirkan lebih detail tentang feasibilitas pergantian pemimpin dalam menyelesaikan berbagai problematika di negeri ini secara tuntas. Apa benar pergantian presiden berkorelasi positif terhadap problem solving di Indonesia? Enam kali sudah pergantian kepemimpinan terjadi, namun Indonesia masih saja terpuruk. Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah dan dengan apa Indonesia bisa menjadi lebih baik? Ada satu, variabel yang penting untuk dibahas, sistem seperti apa yang dapat menghantarkan Indonesia menuju kebangkitan dan mensejahterakan penduduknya? Tulisan ini akan mencoba menjabarkan secara general bahwa Islamlah yang akan memenuhi harapan-harapan ini. Islam sebagai solusi bagi Indonesia yang jauh lebih baik!

    (more…)

  • Categories: Analisis

    Indonesia Pasca Pilpres Presiden 2009

    July 30, 2009 · 1 Comment

    Pilpres 8 Juli sudah dilewati, hasil quick count dan perhitungan sementara KPU menunjukkan kecenderungan pasangan dengan nomor urut 2 menang dalam satu putaran. Di satu sisi hal ini menunjukkan masyarakat puas tehadap kebijakan SBY (setidaknya sekitar 50-60% rakyat yang terdaftar dalam DPT dan menggunakan hak suaranya memilih pasangan ini, terlepas efek iklan kinerja SBY yang banyak dikritik oleh para pakar), Sujiwo Tedjo pun turut berkomentar bahwa kemenangan pasangan ini menunjukkan ciri masyarakat yang melankolik. Yah.. terlepas dari komentar siapapun, kemenangan tetap saja kemenangan. Hanya saja jika melihat track record pasangan ini beserta program-program yang mereka tawarkan akankah mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik?

    Setidaknya jika kita mencermati kampanye SBY-Boed ada beberapa janji yang dikampanyekan diantaranya adalah, pendidikan murah, peningkatan ekonomi hingga 7 persen, penurunan kemiskinan hingga 8-10 persen, peningkatan swadaya pangan, pertahanan dan keamanan yang handal, persenjataan yang baik, kesehatan, pembangunan yang merata hingga ke desa-desa, menjaga NKRI, peningkatan rumah susun dan rumah rakyat, meningkatkan pertanian, dan janji-janji lainnya.

    Seperti apa kebijakan yang akan mereka lakukan untuk merealisasikan janji-janji kampanyenya? Merujuk slogan yang dikampanyekan pasangan ini, tentunya tidak akan terjadi perbedaan metode dalam hal pengurusan urusan rakyat.

    (more…)

    Categories: Analisis

    Mempertanyakan Kembali Demokrasi

    March 26, 2009 · Leave a Comment

    Sebuah Pengantar Kajian Demokrasi Female HATI

    “In a democracy, it is NOT truth that matters; it IS public relations”

    “But my dear Crito, why should we pay so much attention to what

    ‘most people’ think?”

    —Socrates, in Plato’s CRITO (ca. 390 B.C.)

    Aku dan demokrasi.

    Bandung, Maret 2009.

    Dalam keresahan dan himpitan berbagai pertanyaan,izinkan aku berbagi. Aku ingin mengisi “celah” di kepalamu. Bukan apa-apa, tuk sekedar informasi … menambah dialektika.. .walau kuharap ia kan menjadi awal sebuah revolusi. Yah, paling tidak menjadi motivasi padaku sendiri, untuk terus bertanya dan mencari.. lebih dalam tentang demokrasi.

    ***


    Pentas demokrasi Indonesia kini kembali semarak. Jalanan kian penuh dengan spanduk-spanduk yang berisikan kampanye para caleg dengan segala gaya dan bahasa visualnya. Tak hanya itu, janji-janji lisan hingga  kontrak politik pun dibuat. Masyarakat kembali bisa berharap akan adanya perbaikan sistem yang ada saat ini.. Melalui sebuah sistem, yang dengannya negeri ini dihargai oleh Sang Negeri Adidaya sebagai negara pengimplementasi demokrasi. terbaik ketiga di dunia.

    Di balik hingar bingar 2009 ini, sebuah pertanyaan muncul: Apakah sebenarnya demokrasi itu? Seberapa berpengaruh dan seberapa pentingnya ia, hingga saat ini demokrasi benar-benar dianggap laksana virtue, suatu nilai agung yang sudah “dianggap” benar dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Seperti itukah demokrasi?

    Bahasa adalah rasa, begitu pula nilai yang dirasakan ketika mendengar kata ‘demokratis, pas’, Di benak kebanyakan dari kita, kata demokratis, yang identik dengan demokrasi, berhasil memiliki konotasi dan rasa positif… bukan begitu? Mari bandingkan, jika kita mendengar “suatu keluarga yang otoriter”, “pemerintahan yang diktator”, “pribadi yang sewenang-wenang”,  tak perlu ditanya lagi, hati kita akan ‘menolak’ dan memberikan konotasinya negatif bagi kata-kata tadi. Dalam alam bawah sadar, kita dengan mudah membangun dikotomi: demokrasi vs kesewenang-wenangan atau demokrasi sebagai solusi atau otoriterisme.

    Merujuk pada aspek epistemologi, kombinasi kata demos (rakyat) dan kratos (aturan) sepertinya bisa menjadi awal pengenalan kita dengannya. Di awal kita telah tahu, secara harfiah arti demokrasi adalah the rule of common people. Sederhananya atau dengan bahasa yang lebih akrab, demokrasi menawarkan suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Konsep demokrasi lahir sebagai antitesis dari kepemimpinan tunggal dan kediktatoran seorang manusia atas manusia lainnya. Untuk itu, aturan tidak boleh lahir dari kekuasaan seorang manusia saja. Darinya, lahir sebuah pemikiran, bahwa pemerintahan yang terbaik adalah pemerintahan yang dapat mengakomodasi kepentingan seluruh masyarakat. Implikasinya, aturan-aturan yang dibuat pun harus merepresentasikan keinginan masyarakat. Sedangkan tidak mungkin mendengarkan seluruh pendapat masyarakat terlebih dahulu untuk menghasilkan suatu peraturan. Dari sini, muncullah istilah keterwakilan. Hukum dan aturan dibuat oleh wakil-wakil yang mereka pilih sendiri. Dengan harapan, aturan dan hukum yang dibuat akan mengakomodasi kepentingan bersama dan menghindarkan dari tirani tunggal dari penguasa tertentu.

    Harga yang mahal untuk satu kata: demokrasi!

    Tidak hanya itu, mari bayangkan, begitu banyak caleg yang terdaftar, Masing-masing tentunya menginginkan kemenangan .. Artinya mereka harus bersedia untuk melakukan kampanye ‘gila-gilaan’. Bahkan ada seseorang yang begitu nekadnya ingin menjadi caleg, hingga bersedia berutang ratusan juta rupiah ke bank. Apa yang akan mereka lakukan begitu dikukuhkan menjadi wakil rakyat? Mungkinkah pengembalian investasi?

    Inikah keterwakilan yang kita harapkan? Inikah wajah demokrasi yang diusung semua orang? Inikah sistem yang kita harapkan mendatangkan solusi?

    Apa yang sebenarnya kita harapkan dari demokrasi? Penjaminan atas kebebasan (kebebasan berpendapat, berperilaku, kepemilikan, ataupun beragama)? Terkadang aku berpikir, apakah sebegitu pentingkah kebebasan berpendapat? Pada kenyataannya pun kita tidak pernah mendapatkan kebebasan itu! Karena pada faktanya kita tidak diperkenankan bebas ketika sudah mengganggu kepentingan orang lain. Selain itu, kebebasan berpendapat ini pun seringkali menunjukkan muka dua nya.

    Dulu, ketika rasulullah dihina lewat karikatur yang diterbitkan oleh salah satu koran di Belanda, kaum muslimin di seluruh dunia melakukan unjuk rasa, tetapi seingatku tidak ada ungkapan maaf yang terluncur dari pihak pembuat karikatur ataupun penanggung jawab media tersebut. Akan tetapi, hal yang berbeda terjadi ketika New York Post memuat karikatur yang menghina presiden AS terpilih, Barack Obama. Ketika peringatan melayang ke pihak New York Post mereka langsung mengklarifikasi dan menyampaikan maaf mereka. Ataupun ketika kaum muslim mengingikan penerapan syariat Islam, maka isu yang berkembang adalah adanya tirani mayoritas terhadap minoritas, tetapi tidakkah kita berpikir telah terjadi tirani minoritas atas mayoritas?

    Begitu pun dengan kebebasan berperilaku, bukankah kita pun masih ingat kasus pelarangan jilbab di Prancis? Ketika seseorang (Seorang wanita terutama) diperbolehkan untuk menggunakan pakaian semini mungkin, tetapi ketika menggunakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya, larangan pun kembali melayang.

    Begitu pun dengan kebebasan kepemilikan. Benarkah kita memilikinya? Berapa banyak perumahan liar yang digusur atas nama penghijauan kota? Tetapi bagaimana dengan perumahan mewah ataupun mall-mall yang dibangun di daerah resapan air? Apakah kebebasan hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki banyak harta dan kuasa?

    Para pengusung ide ini mengatakan kecacatan-kecacatan yang terjadi dalam demokrasi terjadi karena kesalahan pelaksanaan saja, tetapi apakah benar demikian? Ataukah demokrasi sudah cacat sedari awal? Terlepas dari hal yang lain, dapatkah demokrasi mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh manusia?

    Apakah kita menerima demokrasi ini karena memang keberadaan kita sekarang, di masa demokrasi adalah sebuah nilai yang disetujui sebagai suatu kebenaran dan jalan untuk mencapai win win solution untuk kebaikan seluruh umat manusia? Pernahkah kita berpikir bahwa sejarah masih berputar dan perubahan adalah sebuah keniscayaan? Dulu ketika firaun masih ada, mungkin kebanyakan orang tidak akan bermimpi bahwa manusia akan terbebas dari perbudakan firau. Ketika Arab masih dalam keadaan jahiliyah, kebanyakan orang mungkin tidak berpikir dari negeri ini akan muncul peradaban baru. Ketika tahun 70-80an siapa yang akan berpikir rezim Soeharto akan berakhir dengan keadaan yang sangat gelap. Ataupun kini, disaat demokrasi dianggap sebagai sebuah solusi akankah ia akan abadi? Seperti pendapat Fukuyama bahwa inilah the end of history…

    Masih banyak pertanyaanku. Tentu, juga di kepalamu. Namun, justru itulah yang kuharapkan. Agar aku bisa datang kembali. Berbagi pertanyaan dan juga jawaban. Ya, selama demokrasi menyisakan tanya. Hingga ada jawabnya.

    He (Socrates) complained

    that democracy elevates men to positions of authority

    not as a result of their wisdom or their fitness to

    govern, but as a result of their ability to sway the

    masses with empty rhetoric. In a democracy, it is not

    truth that matters; it is public relations.

    [to be continued]

    Categories: Analisis

    Malam 1000 lilin : Sebuah Kontemplasi Kaderisasi Kemahasiswaan

    February 19, 2009 · 11 Comments


    Kemarin ikut malam 1000 lilin, di Plawid. Sedih sekali….
    Terlepas dari penyebabnya, jadi menyayangkan hal-hal seperti ini terjadi..
    Sudah kemahasiswaannya sepi sekarang diterjang isu seperti ini…

    .

    Huah, mahasiswa..
    masih mikir apa bisa ya mereka menjadi tonggak pembaharu negeri ini?
    Kalo revolusi Bolivarian digerakkan ama mahasiswa
    Kalo revolusi Islam juga didominasi sahabat-sahabat Rasul yang notabene pemuda
    Bagaimana dengan sekarang?

    .

    Tapi saya masih mikir,,
    sepertinya masih membutuhkan jalan panjang bagi mahasiswa ITB untuk memimpin perubahan kalau kondisi pemikirannya seperti ini…

    .

    Anyway, turut berduka atas meninggalnya sahabat kami…
    Semoga jadi pelajaran yang berharga bagi semua.

    Ingin mengutip kata-kata para kahim “Kaderisasi tidak akan pernah mati”

    Sur harap kaderisasi nya benar-benar kaderisasi pemikiran…
    kaderisasi yang mengarah pada kebangkitan… bisakah?
    Kabinet… Himpunan… Unit2 Mahasiswa…
    Semuanya mikir dan bergerak… namun masih belum terarah…

    Ada yang kurang dari simpul-simpul kampus ini: ideologi

    hohohoho….

    biar cahaya-cahaya perubahan di kampus ini gak hanya tersebar tanpa arah
    perlu lensa pemfokus agar panasnya terkonvergenkan
    menuju 1 titik: revolusi!

    image1796image1833

    image1784

    image1832

    Categories: Analisis · curhat

    Freak Lecturer for Freak Students: Mr Budi Rahardjo Version 3.1

    February 13, 2009 · 11 Comments

    Electrical Industry: a unique subject I am taking this semester.. Well as Industrial Engineering, we’re designed to know the other related subject to support our skill about system and its process… Man.. Machine.. Material… And, consequently we need the background of electricity as well…

    But, here, I’d like to emphasize the lecturer rather than the lecture itself… Being in ITB so far, I’ve never met any lecture in this style… Simple, unique, original and “freak”…

    Just imagine it, our first task is making a blog in which all our homeworks will be published. But the point, I do hightlight in my first class: he tells us about simplicity, struggle, and idealism… and about the self confidence… I am so excited to be in this class… rare one!

    Seems it would be a nice semester then!!!

    So, I hope all of you will not be surprised next.. that there will be any post about this subject…

    And now I am in process to write my first task…

    Categories: Analisis · curhat

    Nyawa manusia begitu murahkah?

    February 9, 2009 · 3 Comments

    600.000 tewas di Perang Irak
    1200 nyawa melayang pada invasi terakhir Israel di Palestina
    135 jiwa menjadi korban kebakaran hutan di Australia
    1 orang menjadi tumbal-demokratisasi yang tak jelas-di DPRD Medan
    .
    Ya Ampuun..
    Mulai dari kerusakan alam, perang,, hingga isu pemekaran provinsi
    .
    Nyawa manusia begitu murahkah?
    .
    We need solution, indeed!
    .
    Yang benar-benar menjaga hak hidup manusia
    muak dengan konsep HAM
    yang cuma basa-basi dan retorika belaka…
    .
    Astagfirullah…!!!

    What happend to the world?

    Categories: Analisis · curhat

    demokrasi, pemilu dan fakta golput

    January 28, 2009 · 3 Comments

    apa itu pemilu dan demokrasi?

    mengapa ada fenomena golput dan apa hukumnya?

    sebenarnya bagaimana kedudukan fatwa MUI ? iya gitu golput itu haram??

    sebenarnya bagaimana sih Islam mengatur mekanisme politik?

    mari mari menulis

    still in progress…

    ada yang punya literatur ttg ini? web? buku? makasih makasih…

    Categories: Analisis

    REFRESH OUR MIND ABOUT ENERGY

    January 22, 2009 · Leave a Comment

    Pertanyaan besar muncul :

    1. WHY THE ENERGY?
    2. IS THERE ANY PROBLEM ABOUT ENERGY?
    3. HOW TO SOLVE THAT?
    4. WHAT IS THE GOAL?
    5. WHAT SHOULD WE DO?

    VISI : MANDIRI ENERGI UNTUK INDONESIA YANG MANDIRI

    1. WHY THE ENERGY?

    Karena energi merupakan hal yang substansial untuk pergerakan apapun dalam konteks pembangunan nasional , energi merupakan ruh yang menggerakan pembangunan nasional. Energi berkaitan sangat erat dengan sendi-dendi kehidupan suatau manusia dari cakupan manusia sebagai individu maupun dunia secara keseluruhan. Sebagai gambaran negara-negara super power[1] di dunia adalah negara-negara yang telah mencapai kemandirian energi. Karena itulah energi merupakan kepentingan multinasional yang dapat memicu konflik multidimensional. Energi dalam konsep nasional merupakan penyokong ketahanan multiaspek suatu negara (ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan). Ketahanan multi aspek diperlukan untuk menciptakan kestabilan nasional suatu negara.

    energy-central-position

    Simpulannya adalah kestabilan energi diperlukan untuk menjamin kestabilan nasional suatu negara.

    1. IS THERE ANY PROBLEM ABOUT ENERGY?

    Jawabnnya: YA

    Setelah pertanyaan poin 1 terjawab, masalah yang menjadi effect dari runtutan masalah lainnya adalah suatu kenyataan bahwa Indonesia tidak mandiri energi. Atau sesuai jawaban poin 1 dapat ditarik suatu simpulan premis-premis bahwa Indonesia tidak mandiri energi sehingga Indonesia tidak memiliki ketahanan multiaspek sehingga Indonesia tidak memiliki kestabilan nasional yang baik. Berdasarkan analisis kami, maka permasalahan ketidakmandirian Indonesia dapat dianalisis berdasarkan fishbone diagram[2] berikut.

    fishbone permasalahan energi Indonesia

    Dari diagram tersebut dapat disimpulkan ada beberapa submasalah (akar masalah) yang cukup krusial dan menyebabkan permasalahan yang lebih kompleks dan berimbas pada main effect bahwa Indonesia tidak mandiri energi. Permasalahan tersebut adalah :

    · Pendidikan dan riset yang tidak sepadan dengan kebutuhan untuk mengeksplorasi dan eksploitasi potensi energi Indonesia.

    · Struktur perekonomian Indonesia yang lemah sehingga tidak mampu menopang kebutuhan Indonesia akan energi khususnya dan kebutuhan hidup umumnya.

    · Tatanan sosial dan pola kehidupan masyarakat yang kurang kondusif untuk akselerasi Indonesia menuju kemandirian energi sebagai imbas dari pendidikan formal, sosial, maupun media yang tidak mendukung kemajuan energi nasional.

    · Sistem perundangan (regulasi) yang tidak berpihak pada perkembangan industri energi nasional.

    · Interfensi asing dalam multidimensi (dalam diagramtersebut dibatasi pada ekonomi dan politik) menyebabkan bangsa Indonesia menjadi bangsa termarjinalkan dalam pengelolaan sumber daya energinya sendiri.

    1. HOW TO SOLVE THAT?

    JUST ADD (Analyze, Define, and Do it)

    · Analisis Subyek Masalah

    Dari anlisis fishbone diagram dapat kita tarik simpulan bahwa submasalah (akar masalah) melibatkan beberapa pihak yaitu:

    1. Pihak akademisi (termasuk mahasiswa, ahli dan praktisi energi)

    2. Pihak ekonom, dunia usaha, pakar pembangunan energi

    3. Masyarakat secara keseluruhan dalam perspektif ini masyarakat konsumen energi.

    4. Regulator (eksekutif, dan legislatif).

    5. Pihak asing (baik politik maupun ekonomi).

    · Analisis Kebutuhan Energi Indonesia

    Kebutuhan energi Indonesia dipengaruhi oleh paling tidak 2 faktor yaitu:

    1. Jumlah penduduk Indonesia

    Jumlah penduduk merupakan faktor yang utama, secara teoritis dengan asumsi jumlah konsumsi energi perkapita[3] yang sama, apabila jumlah penduduk mengalami peningkatan, maka jumlah energi yang dikonsumsi pun akan semakin besar. Menurut data statistik jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2000 adalah 205.834.300 jiwa dan pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 231.966.600 jiwa. Atu dengan kata lain pertumbuhan penduduk Indonesia kira-kia 1,25 % per tahun.

    2. Kondisi perekonomian

    Pertumbuhan ekonomi Indonesia

    · Analisis Potensi Energi Indonesia

    Menurut referensi yang diperoleh, Indonesia memiliki potensi energi yang terukur sebagai berikut :

    1. Cadangan minyak bumi 9 miliar barrel, artinya dengan produksi rata-rata sekarang 500juta barrel per tahun, maka akan habis dalam 18 tahun.

    2. Cadangan gas alam 182 TCF (triliun kaki kubik), artinya dengan produksi rata-rata 3 TCF per tahun, maka akan habis dalam 61 tahun.

    3. Cadangan batu bara 19,4 miliar ton artinya dengan produksi rata-rata 150 juta ton per tahun, maka akan habis dalam 130 tahun.

    4. Potensi panas bumi Indonesia sebesar 27.189 MW (sekitar 40% potensi panas bumi dunia) dan baru dimanfaatkan sekitar 807 MW.

    5. Potensi tenaga air (konvensional) Indonesia mencapai 75,67 GW dan baru dimanfaatkan sekitar 4,2 GW, dan potensi tenaga mikrohidro 712 MW dan baru dimanfaatkan 206 MW.

    6. Potensi tenaga surya Indonesia 4,8 KW per m2 perhari dan baru dimanfaatkan sekitar 8 MW..

    7. Potensi angin Indonesia 3-6 m/ detik dan baru dimanfaatkan sekitar 0,6 MW..

    8. Potensi biomassa di Indonesia 49,81 GW dan baru dimanfaatkan sekitar 445 MW.

    · Definisikan persoalan

    Jadi persoalan yang mendasar yang berhasil dianalisis adalah: regulasi, ekonomi,teknik, pendidikan (formal, sosisal, amaupun media). Dari hal-hal tersebut dapat dianalisis

    1. WHAT IS THE GOAL?

    Tujuan dari kepengurusan tahun ini adalah meneruskan eskalasi kajian dari kepengurusan sebelumnya (buku putih kemandirian energi Indonesia), dan menggagas suatu konsep umum yang holistik mengenai energi Indonesia.

    1. WHAT SHOULD WE DO?

    Lakukan hal yang bisa kita lakukan sesuai kapasitas kita sebaga mahasiswa.

    Arahan dari Presiden adalah menumbuhkan pola pikir negarawan dengan implenmentasi sesuai kemampuan sebagai mahasiswa. Terkait dengan energi adalah menghasilkan suatu pemikiran berupa konsep energi Indonesia dengan dasar keilnuan yang dapat dipertanggungjawabkan dan memeberikan suatu added value dibandngkan dengan konsep atau sistem yang sudah ada.Tujuan normatif ini akan kita jalankan melalui proker, dan agenda-agenda non proker pada tahun kepengurusan ini.

    Perlu digaris bawahi bahwa visi Indonesia Mandiri Energi merupakan visi jangka panjang di mana dalam tahap kepengurusan ini hasil yang ingin dicapai adalah:

    · Menumbuhkan sikap kritis dan ilmiah mahasiswa ITB terkait dengan peramasalahan energi nasional. Hal ini akan coba kita fasilitasi melalui forum ilmiah (studium generalle, seminar, forum diskusi)

    · Suatu upaya implementatif (karya aplikatif) pengembangan hasil kepengurusan sebelumnya

    · Menggagas suatu konsep komprehensif mengenai energi dengan penggagas utamanya adalah mahasiswa ITB dengan dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.


    [1] Negara-negara adidaya dunia contohnya USA, Inggris, Perancis, dan Jepang sebagai kekuatan dari Asia

    [2] Suatu metode pendekatan analisis masalah dengan memecah masalah menjadi sub-sub masalah secara independen yang kemudian dicari penyelesaiannya. Metode ini dikenal juga dengan Cause and Effect Diagram dan lazim digunakan dalam Teknik Industri dan Manajemen.

    [3] Jumlah energi rata-rata yang dikonsumsi satu orang dari suatu negara dalam satu tahun

    dari: dokumentasi kajian energi kabinet KM ITB

    Categories: Analisis

    Fundamental Engineer or Functional Engineer ??

    January 9, 2009 · 11 Comments

    Both of the term seem not to be usual for common people, included for me. However,this couple of term, just like an echo, “stuck in my head”..

    How could it be?

    Today (9/1/2009), my friends and I have a special meeting with a national orator and economic expert , Ichsanuddin Noorsy. We acted as the representative of KM ITB, in the purpose of National Energy Conference of KM ITB helding in next March.

    Being fascinated by the update news from this famous frontal speaker, I gave my special attention to his statement and command about the student condition nowadays, especially for the engineers…

    ” … here’s the root cause: almost all of the engineers are satisfied only by being the functional engineers. therefore, less are enjoying to keen in fundamental side of an engineering”

    “what is fundamental engineer Sir?”

    “such a position, in the upper hierarchy of studying, whereas the engineer  does not only master the functional formula, build up model the system and find out the solution, theoritically.. but he also deals with the other wider and fundamental aspects : policy, philosophy, and integrated decision making: politcs and other related issues”

    this is one of the reason why our country is just kept in this stagnancy.

    there’s no accelerator.. no initiator for the fundamental development… as every graduated student is focused only to “how I can solve the given problem”…

    unfortunately, he doesn’t make a comprehensive radically point of view to notice, “what is the problem? where does the problem come from? what is the related aspect and backgrounds of the problem? who has the responsibility of the problem? etc…”

    phiew,, nice words!!

    Projecting it to the Industrial Engineering case of study, I guess as Industrial Engineers, we are already enriched by this skill, aren’t we?? the comprehensive point of view… But I finally find one of the red line: we’re imprisoned by the books and the curriculum…!!

    We are designed to make the requested design, not to make our own design….

    what a pity…

    Categories: Analisis

    BHP : Skenario Liberalisasi Pendidikan Negeri Ini

    January 9, 2009 · 6 Comments

    Kajian Lanjutan Mengenai Esensi BHP dan Kontradiksi Penerapannya

    dengan Dunia Pendidikan Indonesia

    Pengesahan RUU BHP menjadi Undang-Undang pada tanggal 17 Desember 2008 lalu menuai banyak protes dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa. Banyak demonstrasi digelar dalam rangka menyerukan penolakan terhadap pengesahan RUU Badan Hukum Pendidikan tersebut.

    Berbagai alasan dikemukakan banyak pihak sebagai rasionalisasi penolakan pengesahaan RUU BHP ini. Baik itu terkait dengan permasalahan pasal-pasal di dalamnya, maupun mengenai ketidaksiapan pemerintah dalam mengimplementasikan undang-undang tersebut dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun terlepas dari itu semua, dalam paper ini KM ITB akan menjabarkan alasan utama penolakan BHP ditinjau dari sisi filosofi pendiddikan dan esensi dari BHP itu sendiri. Hal ini dilakukan sebagai rasionalisasi lebih lanjut dari pernyataan sikap bahwa kami MENOLAK penerapan Badan Hukum dalam Pendidikan.

    (more…)

    Categories: Analisis