world, word, and me

Just a Contemplation? – Don’t know how to name it…

June 19, 2009 · Leave a Comment

Diringi desingan roda besi di bawah kakiku… Jendela kereta ini seperti frame TV, sedangkan pemandangan di sana seperti kilasan potret negeri ini: mulai dari sawah yang hijau, langit yang biru, penduduk desa yang bersahaja hingga kumpulan rumah kumuh, anak-anak berlarian, orang-orang yang menguak-nguak sampah di tengah hiruk pikuk, carut marutnya Jakarta… AC ini membuat ruangan dalam kereta menjadi dingin, tapi tidak hatiku! Tak berhenti melihat keluar jendela: Indonesia dan orang2 ini…. Gak nyangka bisa jadi kontemplasi singkat di sela-sela perjalanan KP :) !!

***

Perjalanan telah sejauh ini, namun tetap kembali terpikirkan, tentang apa dan bagaimana, serta harus seperti apa kehidupan ini berjalan. Sebuah idealisme yang menjadi impian kita semua: kesejahteraan dan kebahagiaan bagi semua manusia, akankah ia menjadi sebuah kenyataan? 220 juta penduduk Indonesia?? 6 Milyar penduduk dunia?? Bagaimana membuat semua orang ini ‘bahagia’ ? Apa bisa semua bahagia?? Jadi menertawakan diskusi2 yang ada di kampus, kemarin kami terlibat dalam percakapan yang ideal. Namun, bagaimana eksekusinya?? Langkah teknisnya??

Hmm.. Balik lagi… Pemandangan luar sana tidak seberapa. Terlibas di kepalaku, sekumpulan fakta miris lainnya yang terekam dalam memori selama ini: tentang anak-anak kecil yang kelaparan di Afrika, tentang Ibu tua renta yang menangis di Chechnya, tentang seorang ayah yang mati syahid bersama anaknya di Gaza, tentang buruh yang tertindas di China, tentang kaum yang terusir dari daerah jajahannya di Palestina, tentang minyak, emas, tanah yang subur dan lahan strategis yang senantiasa diperebutkan di mana-mana, tentang penjajahan yang terselimuti baju baru, tentang pembodohan ummat, tentang terinjak-injaknya hukum-hukum tuhan, mulut-mulut orang munafik yang senantiasa menganga dan mengeluarkan seruan-seruan rendah dan menyesatkan, pengkhianatan para penguasa dan tentang peta politik serta skenario di baliknya,dan yang paling ku benci: apatisme orang-orang dan tentang kelesuan semangat revolusi di negeri ini, yang berujung pada kalimat retoris pada diriku sendiri: ‘what have you done, dear?’

Di sisi yang lain, muak dengan berita-berita yang selalu sama hari ke hari, saya masih saja tidak habis pikir, tidakkah anak-anak adam ini ingat kepada sebuah tujuan: untuk apa dunia ini diciptakan? Untuk apa ada ‘aku’ di sini saat ini? Apakah sebuah kebetulan, sperma dan ovum yang bersatu di rahim Ibu-Ibu kita, dari sekian ratusan juta kemungkinan, kita hadir ke dunia? Apakah sebuah ketersengajaan tanpa makna: rotasi bumi, orbit planet,  mekanisme atom, sistem biologis makhluk hidup, dan berbagai fenomena alam lainnya. Tidakkah kita melihat tuhan dalam setiap jengkal kehidupan ini? Sayangnya, manusia terlalu sibuk dalam aktivitasnya. Terlalu sibuk untuk memaknai keberadaannya di sini, di dunia ini. Bahwa, kita disini bukan hanya untuk menumpang hidup di bumi, menghabiskan umur hingga kelak kita dikubur. Melainkan, kita di sini, lahir dari-Nya, dengan sebuah misi utama: beribadah  secara total kepada-Nya.

Masalah yang jelas tampak di depan mata, serta tujuan utama kehidupan, cukuplah keduanya menjadi motivasi untuk melakukan sesuatu. Apapun itu. Ingin sekali air mata orang-orang yang tertindas berhenti mengalir, terlalu muak melihat hujan bom dan darah, bosan dihadapkan pada fakta dan data statistic ketidakadilan dunia. Harus ada perubahan. Harus ada pembenahan.

Jadi ingat… Hampir saja dulu kuikuti sosialisme karena ingin semua bahagia, tanpa terkecuali, hingga kulihat cahaya Islam di ujung jalan ini yang menawarkan sebuah solusi yang lebih hakiki. Cahayanya yang pasti, menanti setiap tangan yang siap membawa obor perubahan ke seluruh penjuru dunia. Ketika kebahagiaan semua manusia bukan hanya dalam utopia. Dan ketika Jannah semakin nyata di dalam kalbu. Semangat ini tidak boleh berhenti membara. Walau ku tak hanya butuh itu, tapi juga ilmu.

Ya Tuhan, izinkanlah hamba yang lemah dan tidak sempurna ini untuk sedikit memberi. Ya Allah, dekatkanlah aku dengan orang-orang yang senantiasa menguatkanku. Ya Rabbi, ampunilah dosaku, dosa kedua orang tuaku, dosa teman-teman dan saudara-saudaraku, dosa kaum muslim yang masih saja jauh dari syariatMu. Duhai Dzat, yang menggenggam segala sesuatu di dunia, beri aku cukup waktu di bumi untuk mengumpulkan bekal sebelum menghadap kepadaMu. Atau, jika engkau menginginkan ku berpulang segera, izinkanlah kesyahidan menjadi sarana pertemuanku denganMu.

Hmm… Aku benci berada di sini, sebuah negeri yang terlalu nyaman dan hening. Mungkinkah, ke depan, HARUS KITA CIPTAKAN SEDIKIT KEGADUHAN? Oh sebelumnya, harus ku cari strategi bagaimana agar lab dan buku-buku itu tidak lagi menjadi penjara.

***

P.S: Jakarta Panas! Aku lebih suka kuliah. Kehidupan materialistik ini membosankan.

Categories: curhat

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment