world, word, and me

Malam 1000 lilin : Sebuah Kontemplasi Kaderisasi Kemahasiswaan

February 19, 2009 · 11 Comments


Kemarin ikut malam 1000 lilin, di Plawid. Sedih sekali….
Terlepas dari penyebabnya, jadi menyayangkan hal-hal seperti ini terjadi..
Sudah kemahasiswaannya sepi sekarang diterjang isu seperti ini…

.

Huah, mahasiswa..
masih mikir apa bisa ya mereka menjadi tonggak pembaharu negeri ini?
Kalo revolusi Bolivarian digerakkan ama mahasiswa
Kalo revolusi Islam juga didominasi sahabat-sahabat Rasul yang notabene pemuda
Bagaimana dengan sekarang?

.

Tapi saya masih mikir,,
sepertinya masih membutuhkan jalan panjang bagi mahasiswa ITB untuk memimpin perubahan kalau kondisi pemikirannya seperti ini…

.

Anyway, turut berduka atas meninggalnya sahabat kami…
Semoga jadi pelajaran yang berharga bagi semua.

Ingin mengutip kata-kata para kahim “Kaderisasi tidak akan pernah mati”

Sur harap kaderisasi nya benar-benar kaderisasi pemikiran…
kaderisasi yang mengarah pada kebangkitan… bisakah?
Kabinet… Himpunan… Unit2 Mahasiswa…
Semuanya mikir dan bergerak… namun masih belum terarah…

Ada yang kurang dari simpul-simpul kampus ini: ideologi

hohohoho….

biar cahaya-cahaya perubahan di kampus ini gak hanya tersebar tanpa arah
perlu lensa pemfokus agar panasnya terkonvergenkan
menuju 1 titik: revolusi!

image1796image1833

image1784

image1832

Categories: Analisis · curhat

11 responses so far ↓

  • Filein // March 5, 2009 at 4:08 am | Reply

    Assalamualaikum Wr Wb,

    Ukhti Surani khaifa khaluk? masih ingatkah dgn diriku? btw foto diatas dirimu yg moto? nice…

    btw, kalo ga keberatan, mohon koreksi tulisanku yg berjudul “Ketika akal menyinari proses keimanan” I was publis in my blogs

    ok, ditunggu kritikan nya…

    Wassalam,

    oh iya, salam buat akhwat hati di sana.. btw kalo teh Ifiq ada blogs ga? kangen sama Teh Ifiq… aku juga kangen berat sama Mba Eva… tapi beliau sibuk banget ya? kalo ketemu Mba Eva salamin dari aku yaa… btw bahasa Papua-nya Terima KAsih, apa sur?

  • Surani // March 5, 2009 at 10:18 am | Reply

    wa’alaykumsalam wr wb ukhti…
    waduh maaf gak ingat… hmm siapa ya?? oh iya teteh yang itu kan….!!

    (mmm masih gak ingaaat… maaf2..)

    insyAllah salamnya disampaikan. teh ivik ndak suka blog2an.. ikut GNB (gerakan non blog) beliau… ^__^

    wah bahasa papua terima kasih?? mmm….
    di papua bahasanya udah bahasa indonesia teh.. hehe …

    mm biasanya kami suka bilang “makasi eee, pace mace smua..”
    hehe

  • demonzbabtizm // March 8, 2009 at 8:33 pm | Reply

    Tapi saya masih mikir,,
    sepertinya masih membutuhkan jalan panjang bagi mahasiswa ITB untuk memimpin perubahan kalau kondisi pemikirannya seperti ini…

    [memangnya kenapa dengan pemikiran anak ITB kawan???]
    .

    Anyway, turut berduka atas meninggalnya sahabat kami…
    Semoga jadi pelajaran yang berharga bagi semua.

    [aku juga turut berduka cita yang sedalam-dalamnya..semoga dia diterima di sisi sang maha segalanya..amin]

    kaderisasi yang mengarah pada kebangkitan… bisakah?

    [percayalah perubahan itu keniscayaan sejarah karena dia tak pernah bohong..jangan berhenti atau kau akan menyesalinya nanti]

    Ada yang kurang dari simpul-simpul kampus ini: ideologi

    [dialektika ini sudah berlangsung sepanjang peradaban manusia. dimanakah kau berpijak kawan?]

    biar cahaya-cahaya perubahan di kampus ini gak hanya tersebar tanpa arah
    perlu lensa pemfokus agar panasnya terkonvergenkan
    menuju 1 titik: revolusi!

    [aku benar-benar mencintai frasa-frasa ini. imanen pada diri kita..biar manusia sedikit punya makna]

    [apakah kita lemah atau raksasa..kamu sudah sangat menyadarinya. aku cuma seorang asing yang telah karib dengan perasaan yang kau lukiskan..cuma kawan [dlm claimku padamu] dari pedalaman..kulihat secercah asa di blog ini..semoga menjadi cahaya]
    amin.

  • Surani // March 9, 2009 at 7:15 am | Reply

    [memangnya kenapa dengan pemikiran anak ITB kawan???]
    .
    Ada banyak sih karakter pemikiran mahasiswa ITB, tetapi kebanyakan yang saya temui… mereka ingin sekali mengaplikasikan karya.. namun tanpa sebuah penggalian mendasar ke view holistiknya.. jadinya parsial gak sih?? for instance, masalah energi… lebih suka buat alat listrik untuk desa mandiri energi tapi sebenarnya masalah energi kan bukan kita gak punya alat.. tapi karena sistem kita “terjajah” sehingga gak ada alat…
    mau sebanyak apapun buat alat dan pengembangan teknologi, kalo background politik dan sistem energi nasionalnya kayak gini.. tetep aja kan?

    [dialektika ini sudah berlangsung sepanjang peradaban manusia. dimanakah kau berpijak kawan?]

    saya berpijak dari ideologi Islam
    saya sudah melihat blog Anda, mm ideologi Anda sosialis ya?

    [aku benar-benar mencintai frasa-frasa ini. imanen pada diri kita..biar manusia sedikit punya makna]

    [apakah kita lemah atau raksasa..kamu sudah sangat menyadarinya. aku cuma seorang asing yang telah karib dengan perasaan yang kau lukiskan..cuma kawan [dlm claimku padamu] dari pedalaman..kulihat secercah asa di blog ini..semoga menjadi cahaya]
    amin.

    Amiiiin…Thanks anyway..

    Dalam sistem seperti ini, rasa gelisah dan tidak nyaman memang sangat jarang ditemui…
    Sekarang PR nya adalah: terus mencari bagaimana dan dengan apa mengubah sistem saat ini…
    dan.. asa ini saya peroleh dari Islam…

  • demonzbabtizm // March 9, 2009 at 6:11 pm | Reply

    aku rasa tujuan manusia itu sama: civil society. apakah aku seorang sosialist ataukah kamu islamist..itu ga jadi soal gi. ideologi hanya ‘metode’ untuk memahami realitas dan mewujudkan cita.

    ttg mencari bagaimana dan dengan apa mengubah sistem saat ini, aku yakin islam punya banyak jawaban..meski ia ditafsirkan berbeda-beda..banyak mahzab..yang selalu merasa dirinya paling benar. tapi aku yakin kebenaran (sejatining islam) tak pernah bohong. aku pun seorang moslem..dalam keyakinan transendenku. namun imanensiku..kau pun sudah tahu.

    yah..jangan pernah berputus harap ato terjebak dalam dialektika semu..sedang perubahan itu memerlukan gerak..menggeliat. dan aku percaya dalam suatu titik..kita akan bertemu dalam cakrawala yang sama.

  • demonzbabtizm // March 10, 2009 at 11:25 pm | Reply

    hanya tuk mengheningkan cipta..mendedah eksistensi kita tempo doeloe..sekedar tahu..menjadi manusia baru. dan kau takkan menyesalinya. INDONESIANS HAVE TO LISTEN THIS VOICE: http://demonzbabtizm.wordpress.com/welkam-guestbuk/

  • Surani // March 11, 2009 at 2:47 am | Reply

    @demonzbabtizm

    bagaimana mungkin pertentangan ideologi tidak menjadi masalah, sedangkan di dalamnya terkandung “konsep” dan “metode” yang mengatur masyarakat dan segala permasalahannya…
    revolusi apa yang dituju? metode seperti apa yang digunakan? tujuan akhir apa yang dikejar? dan yang pasti…
    ideologi pula yang menjelaskan kerangka besar akan hidup, sebelum dan sesudahnya, serta berbagai derivasi fundamental lainnya…

    oh ya, terima kasih komentar2nya yang menarik…
    teruskan dialektikanya..
    semoga kegelisahan yang ada akan terjawab pada satu titik yang menggambarkan kerangka besar dari hidup ini…

    karena bagiku
    dialektika hanya awal..
    revolusi hanya 1 fragmen dari sejarah anak adam…
    akal sebagai esensi manusia,
    juga menuntut 1 tambahan: pertanggungjawaban…

    Sebagai sesama kaum muslim, saya hanya ingin mengajak Anda untuk mendalami indahnya ideologi Islam..

    Islam bukan sekedar pertentangan antarmahdzab (itupun cuma pertentangan di masalah cabang dan diperbolehkan berbeda — masalah ijtihadiyah)
    Islam… kombinasi indah antara rasionalitas dan ketundukan pada sang khalik..
    yang menjelaskan frame besar penciptaan sebelum dan sesudahnya, dan visi dasar menjadi seorang manusia
    Islam… menawarkan solusi bagi akal-akal yang gelisah atas carut marutnya hidup…

    “aku percaya dalam suatu titik..kita akan bertemu dalam cakrawala yang sama.”
    semoga cakrawala yang sama bisa diperoleh dari akar ideologi yang sama pula

    mungkin saya tidak bisa menjelaskan Islam dalam page yang terbatas ini
    namun cahaya Islam akan senantiasa ada bagi orang2 yang gelisah dan terus mencari
    selamat berdialektika dan terus menggali…
    semangaat!!!

    wa ma taufiqi illa billah..

  • demonzbabtizm // March 11, 2009 at 5:35 pm | Reply

    yah..jadi sperti muhammad yasin: iman yang kuat dalam nalar yang sehat. hehe.

    semoga cakrawala yang sama bisa diperoleh dari akar ideologi yang sama pula..

    amin. makasih ya. sesekali comment blog aku dong. kalo senggang seh.

  • pengelolakomaht // March 15, 2009 at 6:36 am | Reply

    Simak terus update diskusi antara Hizbut Tahrir dan mantan Hizbut Tahrir, tentang Hizbut Tahrir dan da’wah khilafahnya di :

    http://mantanht.wordpress.com

    Semoga menambah wawasan kita bersama.

  • ITB Mania // March 17, 2009 at 2:43 am | Reply

    Oh … ini malam pengantar untuk mahasiswa ITB yg Mampus karena dikerjain seniornya itunya, kaya gak ada kerjaan ya orang ITB buang duit pasang lilin segala, coba duitnya buat amal atau dikasih ke keluarga Dwiyanto Wisnugroho kek, makanya kekerasan itu harus dihapuskan dari ITB atau kayanya ITB ini harus dibubarin aja deh, soalnya alumninya gak mutu pada gila duit smua …

  • Surani // March 19, 2009 at 3:59 am | Reply

    mas/mbak ITB Mania.. sebelum berkomentar, coba diconfirm dulu.. iya gitu meninggalnya karena kekerasan?

    di dunia imagologi saat ini.. dengan media yang disetir…

    akan sangat bijak jika mas/mbak “ITB mania” langsung menghadap ke IMG dan/atau rektorat untuk cross check informasi langsung.

Leave a Comment